𝐏𝐔𝐏𝐔𝐊 𝐍𝐈𝐓𝐑𝐎𝐆𝐄𝐍 𝐔𝐑𝐄𝐀 𝐃𝐀𝐍 𝐊𝐍𝐎𝟑 𝐏𝐀𝐃𝐀 𝐏𝐄𝐌𝐁𝐈𝐁𝐈𝐓𝐀𝐍 𝐓𝐀𝐍𝐀𝐌𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐓 𝐃𝐀𝐋𝐀𝐌 𝐑𝐎𝐎𝐓 𝐓𝐑𝐀𝐈𝐍𝐄𝐑

Seperti yang sudah kita ketahui, bagaimana pemupukan anorganik memiliki peran penting dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman karet pada pembibitan dalam root trainer.

Salah satu faktor yang mempengaruhi efektivitas pemupukan anorganik tersebut adalah tepat dalam penentuan jenis pupuk.

Salah satu jenis unsur hara yang penting dalam mendukung pertumbuhan tanaman karet dan utamanya diberikan melalui pemupukan anorganik adalah Nitrogen.

Nitrogen merupakan hara esensial yang berhubungan dalam proses pembentukan protein dan klorofil daun serta dibutuhkan dalam jumlah yang besar.

Beberapa pupuk anorganik sebagai sumber Nitrogen yang sudah banyak digunakan pada tanaman karet adalah Urea dan KNO3.

Urea memiliki kandungan Nitrogen dalam bentuk NH4 sangat tinggi, yaitu 46 %, sedangkan KNO3 memiliki kandungan Nitrogen lebih rendah dibandingkan urea tetapi dalam bentuk NO3.

Urea dan KNO3 merupakan pupuk nitrogen yang mudah larut dalam air sehingga tepat digunakan pada pembibitan tanaman karet dalam root trainer yang memang secara umum pemupukan melalui akar diberikan dalam bentuk cair.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk Nitrogen urea dan KNO3 dalam bentuk cair pada beberapa konsentrasi pemupukan dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi tanaman, diameter batang, bobot tanaman dan bobot akar tanaman karet dalam pembibitan root trainer.

Pemberian pupuk KNO3 secara umum menunjukkan pertumbuhan tanaman karet yang lebih tinggi dibandingkan pupuk urea. (RCP).

linkedinrssyoutubeby feather

𝙎𝙀𝙍𝘼𝙉𝙂𝘼𝙉 𝙋𝙀𝙉𝙔𝘼𝙆𝙄𝙏 𝙋𝙀𝙎𝙏𝘼𝙇𝙊𝙏𝙄𝙊𝙋𝙎𝙄𝙎, 𝘼𝘿𝘼𝙆𝘼𝙃 𝙆𝙀𝙍𝙐𝙂𝙄𝘼𝙉 𝙀𝙆𝙊𝙉𝙊𝙈𝙄 𝘽𝘼𝙂𝙄 𝙋𝙍𝙊𝘿𝙐𝙎𝙀𝙉 𝙆𝘼𝙍𝙀𝙏?

Akhir-akhir ini kita seringkali mendengar penyakit yang menyerang pada tanaman karet, yaitu Pestalotiopsis.

Pestalotiopsis termasuk penyakit gugur daun (PGD). Namun demikian, tidak hanya daun muda dan tua yang terkena dampaknya, namun juga dapat menginfeksi ke batang, dan buah.

Berbagai klon rekomendasi pun terserang , yaitu BPM 24, GT1, IRR 112, PB 260, PB 340, dan RRIC 100.

Laporan pertama penyakit Pestalotiopsis terjadi di Malaysia tahun 1975 di kebun pembibitan, lalu tahun 2016 menyebar ke Sumatera bagian Utara dan tahun 2017 ke Sumatera bagian Selatan hingga kini.

Pada event GRC, 2019 menyebutkan bahwa penyakit Pestalotiopsis telah menyerang Indonesia seluas 387.000 Ha, Thailand seluas 51.200 Ha, Malaysia seluas 2.700 Ha, dan Sri Lanka 1.000 Ha.

Bagaimana dampak terhadap produksi? Serangan Pestalotiopsis setidaknya mengakibatkan penurunan produksi karet 20-45% pada tanaman yang terinfeksi.

Di Thailand, dalam tempo 10 bulan di tahun 2019 terlapor terjadinya penurunan produksi hingga 15% yang diakibatkan berbagai faktor yaitu penyakit gugur daun, iklim yang tidak kondusif dan harga karet yang rendah.

Indonesia, Thailand dan Malaysia merupakan 3 negara produsen karet terbesar di dunia, tentunya juga terdampak penurunan produksi secara kumulatif yang berarti penurunan pasokan karet alam dunia.

Apa yang perlu dilakukan untuk pengendalian penyakit Pestalotiopsis sesuai rekomendasi Meeting of the expert on Rubber Disease, 2019? Ada berbagai cara, yaitu memupuk tanaman karet dengan 100% dosis anjuran + 25% N dan aplikasi fungisida.

Biaya pengendalian dengan penyemprotan (spraying) terlampir dalam Tabel 1. Sebaiknya aplikasi diulang minimal 2x, dengan durasi 2-2,5 bulan setelah aplikasi pertama.

Dari yang sudah dijelaskan di atas, dapat diketahui bahwa kerugian ekonomi bagi produsen karet akibat penyakit Pestalotiopsis, antara lain penurunan produksi 15-45% dan tambahan biaya minimal Rp 788.300/ha (untuk dua kali spraying/ha) untuk pengendalian penyakit.

Hal tersebut secara tidak langsung dapat mengurangi pasokan karet dunia secara luas, dan menurunkan keuntungan pekebun karet di masa situasi karet yang sudah terpuruk ini.

Namun demikian, akankah penurunan pasokan karet alam dapat mendongkrak harga karet, senada dengan hukum ekonomi bahwa pasokan barang turun, akan diikuti dengan kenaikan harga? Mari kita lihat bersama beberapa waktu ke depan.(TW).

Tabel 1. Biaya untuk menyemprot fungisida (1x aplikasi)

linkedinrssyoutubeby feather

𝐓𝐑𝐈𝐂𝐇𝐎𝐃𝐄𝐑𝐌𝐀 𝐒𝐏𝐏. 𝐁𝐄𝐑𝐏𝐎𝐓𝐄𝐍𝐒𝐈 𝐒𝐄𝐁𝐀𝐆𝐀𝐈 𝐁𝐈𝐎𝐅𝐔𝐍𝐆𝐈𝐒𝐈𝐃𝐀 𝐓𝐄𝐑𝐇𝐀𝐃𝐀𝐏 𝐏𝐆𝐃 𝐂𝐎𝐑𝐘𝐍𝐄𝐒𝐏𝐎𝐑𝐀

Corynespora casiicola merupakan jamur penyebab gugur daun (PGD) Corynespora pada tanaman karet.

Gejala awalnya dapat dilihat ada bercak hitam kemudian berkembang menyirip menyerupai tulang ikan, bercak semakin luas dan menyebabkan lesi pada daun.

Gejala lanjut penyakit ini adalah daun berwarna kuning atau coklat kemerahan kemudian gugur akibat toksin casiicolin yang dikeluarkan oleh C. casiicola.

Penyakit ini dapat terjadi pada daun tua maupun daun muda.

Selama ini pengendalian terhadap penyakit PGD Corynespora dilakukan dengan aplikasi fungisida berbahan aktif mankozeb/ karbendazim/ benomil.

Selain itu juga direkomendasikan penggunaan klon tahan PGD Corynespora seperti PR 228, PR 225, PR 300, AVROS 2037, BPM 1, BPM 24, RRIC 100, dan beberapa klon seri IRR serta diiringi pemeliharaan tanaman secara optimal.

Seiring dengan perkembangan waktu, hasil penelitian terbaru menunjukkan Trichoderma spp.

koleksi Balai Penelitian Getas berpotensi sebagai biofungisida terhadap PGD Corynespora.

Penelitian tersebut dilakukan secara in vitro dengan metode dual culture pada media PDA.

Hasil uji antagonisme secara in vitro menunjukkan isolat T. harzianum, T. koningii, T. viride milik Balai Penelitian Getas dapat menghambat pertumbuhan C. casiicola.

Laju penghambatan bervariasi namun semuanya menunjukkan persentase yang semakin meningkat setiap harinya.

Berdasarkan pengamatan terakhir (hari ke-5 setelah perlakuan) didapatkan hasil T. viride mempunyai daya hambat paling tinggi terhadap C. casiicola sebesar 68,82%, kemudian T. harzianum mempunyai daya hambat sebanyak 63,98% dan T. koningii sebanyak 61,83%.

Meskipun nilai persentase daya hambat dari ketiga Trichoderma spp.tersebut berbeda namun secara statistik tidak ada beda nyata di antara ketiganya.

Dari hasil penelitian juga diketahui mekanisme antagonis dari jamur T. viride, T. harzianum dan T. koningii terhadap C. casiicola berupa kompetisi tempat tumbuh dan nutrisi.

Hal tersebut terlihat dari pertumbuhan ketiga Trichoderma spp. yang lebih cepat sehingga menekan pertumbuhan C. casiicola.

Selain itu, T. viride, T. harzianum dan T. koningii dalam uji ini juga mempunyai mekanisme parasitisme terhadap C. casiicola.

Mekanisme parasitisme ditandai dengan mampu tumbuhnya Trichoderma spp. di atas koloni C. casiicola dan menyebabkan C. casiicola berhenti tumbuh.(IB)

linkedinrssyoutubeby feather