Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

PERAN PUPUK ORGANIK PADA PERKEBUNAN KARET

Salah satu teknologi pemupukan tanaman karet saat ini dan di masa depan adalah kombinasi antara pupuk anorganik dengan pupuk organik. Dengan demikian, pupuk anorganik dapat diberikan dengan dosis yang lebih rendah dan seimbang. Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi antara pupuk organik dengan anorganik terbukti dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman karet. Pendekatan penggunaan pupuk organik saja tanpa menggunakan pupuk kimia masih merupakan hal yang sulit untuk diterapkan, mengingat kadar hara dari pupuk organik yang rendah. Perkebunan karet pada kondisi tanah dengan tingkat kesuburan yang rendah, pupuk organik dapat berperan untuk meningkatkan kesuburan tanah. Pupuk organik juga merupakan sumber hara makro dan mikro, memperbaiki sifat fisik tanah, dan berpengaruh terhadap mikroorganisme tanah sehingga dapat mempercepat dekomposisi dan pelepasan hara. Read the rest of this entry »

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Mutu Fisiologis : Bibit Karet Tipe Juvenil

Bagian tertua suatu tanaman secara kronologi umur adalah bagian bawah tetapi menurut terminologi ontogenik & pendewasaan adalah bagian yang paling muda (juvenil). Jadi sekalipun tunas baru pada batang yang sudah berbunga adalah daun muda, namun secara ontogenik jaringan tersebut bertipe dewasa (mature type) (Gambar 1). Inilah yang menyebabkan mengapa sangat dilarang menggunakan sumber entres dari tanaman produksi karena bersifat mature type.

Bibit karet tipe juvenil adalah istilah bibit karet yang memenuhi mutu fisiologis, yaitu berasal dari mata tunas yang bersifat juvenil & diokulasikan pada batang bawah yang terseleksi. Seringkali batang atas kurang mendapatkan perhatian juvenilitasnya, sehingga bibit okulasi cenderung bertipe dewasa. Konsep perubahan juvenilitas & dewasa menjadi bagian yang menarik pada tanaman Hevea & telah diketahui sejak awal 1939 (Baptist, 1939). Pada tanaman Hevea, fase juvenil & dewasa ditemukan baik pada tanaman asal biji maupun hasil okulasi (Songquan et al., 1990). Secara umum rentang umur 4-5 tahun adalah fase muda (juvenil), 5-6 tahun adalah fase transisi & diatas 6-7 tahun adalah fase dewasa (Seneviratne, 2000). Mengetahui fase perubahan perkembangan tanaman karet menjadi penting untuk memastikan batang bawah & batang atas sama-sama dalam kondisi juvenil. Mercykutty et al. (2014) membuktikan bahwa batang atas dari entres juvenilmencapai lilit batang dan buka sadap yang lebih cepat dibandingkan entres tua. Secara umum, pada tanaman yang belum dewasa, semakin mendekati leher akar, jaringan tanaman semakin bersifat juvenil. Konsep tersebut selanjutnya diaplikasikan pada manajemen tunas kebun entres, dimana selain dipastikan bibitnya bersifat juvenil, tunas yang diambil dianjurkan tidak terlalu tinggi dan terlalu jauh percabangannya. Pemangkasan tunas juga hendaknya mengikuti pola yang sama, yaitu mendekati leher akar (bersambung) [LA/01].

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «