Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Mutu Bahan Tanam Klonal pada Tanaman Karet

Bibit unggul karet berkualitas setidaknya memenuhi 3 mutu, yaitu mutu genetis, mutu fisiologis dan mutu fisik. Mutu genetis berkaitan dengan kemurnian klon di kebun entres dan bibit diperbanyak dengan klonal (okulasi), tidak menggunakan bibit asal biji (seedling). Pemilihan klon unggul disesuaikan dengan kondisi agroklimat wilayah pengembangan, agar potensi hasilnya bisa optimal. Potensi hasil juga dipengaruhi oleh mutu fisiologis bibit. Mutu fisiologis berkaitan dengan daya dukung fungsi fisiologis tanaman untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Klon unggul dengan potensi produksi tinggi, namun mutu fisiologisnya rendah (bibit tipe dewasa) akan menghasilkan bahan tanam dengan pertumbuhan dan perkembangan yang tidak optimal. Seperti, capaian lilit batang dan tebal kulit yang tidak standar dan berdampak pada lambatnya populasi memasuki matang sadap. Bibit tipe dewasa juga menyebabkan tanaman cepat memasuki fase reproduktif yang dicirikan dengan munculnya fase berbunga dan gugur daun musiman yang lebih cepat. Perbedaan yang signifikan antara karakter bibit klonal tipe juvenil dan tipe dewasa telah dilaporkan Dickman (1951), Songquan et al. (1990) & Mercykutty et al. (2014). Lilit batang dan tebal kulit bibit klonal tipe juvenil nyata lebih tinggi dibandingkan tipe dewasa. Persentase populasi matang sadap juga lebih banyak dicapai pada bibit klonal tipe juvenil disamping masa sadap yang lebih cepat, dibandingkan tipe dewasa. Sambungan pertautan okulasi juga lebih halus pada bibit klonal tipe juvenil dan kaki gajah sangat jelas terlihat pada tipe dewasa. Mutu fisiologis dapat diupayakan melalui seleksi biji/batang bawah, juvenilitas batang atas (kebun entres) dan kompatibilitas antara batang bawah dan batang atas. Seleksi biji meliputi seleksi kesegaran dan daya kecambah, seleksi perkecambahan hingga semaian. Kecambah yang tumbuh lebih dari 14 hari atau kondisi semai batang bawah yang kerdil dan abnormal, sebaiknya tidak digunakan. Kebun entres juga diupayakan berasal dari bibit yang terseleksi (bukan bibit sisa), dilakukan manajemen penunasan dengan baik (tidak lebih dari tunas tersier) dan umur tidak dibiarkan terlalu tua. Mata tunas dipilih tidak terlalu jauh dari pertautan okulasi, menggunakan mata burung atau mata prima, dari batang pimer (batang yang tumbuh pertama) hingga tersier (cabang yang tumbuh dari pemangkasan kedua dari batang primer). Sangat dilarang menggunakan mata tunas dari tanaman produksi atau cabang samping (tunas lateral) karena akan menghasilkan bibit tipe dewasa (mature type). Inilah pentingnya menggabungkan mutu genetis dan memastikan mutu fisiologis bahan tanam klonal, disamping didukung mutu fisik yang baik. Mutu fisik bisa dilihat dari kriteria perakaran yang lurus (tidak bercabang, tidak bengkok), akar maupun tunas sehat dan tumbuh normal. Ketiga mutu tersebut akan sangat menentukan fase perkembangan selanjutnya (bersambung).

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

KONDISI EKSPOR KARET INDONESIA 2013-2018

Badan Pusat Statistik menginformasikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Agustus 2018 terjadi defisit 4,08 milyar US$. Kinerja ekspor non migas merosot dan tidak dapat menutup defisit sektor migas. Komoditas karet merupakan salah satu produk non migas. Kinerja ekspor karet juga mengalami penurunan pada periode 2013-2018 (Gambar 1).

Nilai ekspor karet merupakan hasil perkalian dari jumlah barang yang diekspor dan harga barang yang diekspor dan mengacu pada nilai free on board (FOB). Nilai ekspor karet periode 2013-2018 menunjukkan trend yang semakin menurun. Tidak hanya jumlah karetnya saja yang turun, namun juga harga karet yang cenderung menurun. Turunnya nilai ekspor semakin dipertajam karena pengaruh rendahnya harga karet yang terjadi sejak tahun 2012. Perlu upaya keras untuk memperbaiki harga karet dan mencari celah pasar agar nilai ekspor dapat meningkat kembali.  Di sisi lain, daya guna karet juga perlu ditingkatkan melalui hilirisasi dan pangsa pasar baru yang tentunya harus bersaing dengan negara produsen karet lainnya.

Tidak semua produksi karet alam Indonesia diekspor ke luar negeri, ada sebagian yang dikonsumsi domestik untuk keperluan domestik. Trend konsumsi karet domestik menunjukkan peningkatan meskipun masih dalam jumlah yang relatif kecil (Gambar 2).

 

 

 

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «