Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Dampak Positif Perubahan Pola Musim

Masih terkait dengan duet penyakit gugur daun (PGD) yang mampu meluluhlantakkan ketahanan beberapa klon rekomendasi Pusat Penelitian Karet terbaru pada GTP sebelumnya, kali ini akan dibahas mengenai salah satu faktor penting yang menyebabkan munculnya serangan tersebut. Gangguan berat yang menyebabkan kerontokan daun atau bahkan tanaman meranggas umumnya diawali dengan tidak terkendalinya PGD Oidium. Di Jawa Tengah, PGD Oidium berkembang bersamaan dengan flush setelah terjadinya gugur daun alami tanaman karet. Tunas yang baru mekar, daun muda berumur kurang dari 10 hari, bunga dan bakal buah merupakan organ tanaman yang rentan terhadap PGD Oidium.

Pada bulan Agustus – September setiap tahunnya tanaman karet mulai membentuk daun-daun baru, bersamaan dengan pergantian musim dari musim kemarau memasuki musim hujan.Sedikit hujan, tidak banyak sinar matahari, dan suhu yang agak rendah menjadi beberapa faktor yang mendukung perkembangan penyakit ini. Cuaca kering tidak menghambat penyakit asal tidak disertai oleh suhu tinggi. Read the rest of this entry »

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

KONDISI EKSPOR KARET INDONESIA 2013-2018

Badan Pusat Statistik menginformasikan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada periode Januari-Agustus 2018 terjadi defisit 4,08 milyar US$. Kinerja ekspor non migas merosot dan tidak dapat menutup defisit sektor migas. Komoditas karet merupakan salah satu produk non migas. Kinerja ekspor karet juga mengalami penurunan pada periode 2013-2018 (Gambar 1).

Nilai ekspor karet merupakan hasil perkalian dari jumlah barang yang diekspor dan harga barang yang diekspor dan mengacu pada nilai free on board (FOB). Nilai ekspor karet periode 2013-2018 menunjukkan trend yang semakin menurun. Tidak hanya jumlah karetnya saja yang turun, namun juga harga karet yang cenderung menurun. Turunnya nilai ekspor semakin dipertajam karena pengaruh rendahnya harga karet yang terjadi sejak tahun 2012. Perlu upaya keras untuk memperbaiki harga karet dan mencari celah pasar agar nilai ekspor dapat meningkat kembali.  Di sisi lain, daya guna karet juga perlu ditingkatkan melalui hilirisasi dan pangsa pasar baru yang tentunya harus bersaing dengan negara produsen karet lainnya.

Tidak semua produksi karet alam Indonesia diekspor ke luar negeri, ada sebagian yang dikonsumsi domestik untuk keperluan domestik. Trend konsumsi karet domestik menunjukkan peningkatan meskipun masih dalam jumlah yang relatif kecil (Gambar 2).

 

 

 

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «