Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

KONTRIBUSI BIBIT KARET ROOT TRAINER SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN BALIT GETAS (BAGIAN 2)

  Bibit karet root trainer buatan kita mulai sudah terdistribusi ke para pengguna, yaitu dari kalangan perkebunan yaitu PTPN IX (kebun Batujamus, Balong dan Merbuh), akademisi (Universitas Gajah Mada), bahkan untuk pameran di Museum Macan Jakarta J. Berdasarkan testimoni yang telah kita himpun, mereka menyatakan rasa puas terhadap kualitas bibit root trainer buatan kita.    

Bibit karet root trainer-nya MANTABS, distribusi di lapangan bisa lebih cepat, prestasi lebih tinggi dan sangat efisien” tutur Bapak Hendro selaku asisten kepala (HTO) kebun Merbuh PTPN IX. Sementara Bapak Yes asisten kepala kebun Batujamus PTPN IX menyampaikan testimoninya bahwa “Bibit root trainer dari Balit Getas meskipun saat ditanam adalah 1 payung, tetapi setelah 1 tahun ditanam di lapangan keragaan tanaman sama dengan tanaman yang berasal dari bibit polybag 2 payung”. Testimoni lainnya dari Bapak Septaka Manajer Kebun Balong PTPN IX menyampaikan: ”Bibit karet root trainernya bagus, tahun ini kami akan pesan lagi”. Demikian beberapa TESTIMONI KEPUASAN para pengguna bibit karet root trainer Balit Getas.   Read the rest of this entry »

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Pengaruh Klon dan Jenis Mata Okulasi terhadap Waktu Melentis dan Tinggi Tunas pada bibit Roottrainer

Penggunaan jenis mata burung dan mata prima pada ketiga klon karet IRR 118, IRR 112 dan PB 360 telah diamati terhadap karakter waktu pecah tunas (melentis) dan pertumbuhan tunasnya. Hasilnya menunjukkan bahwa waktu melentis terjadi antara 11-70 hari setelah serong, dengan rata-rata hari ke- 18,95-28,5 (Gambar 1). Rata-rata waktu melentis untuk klon IRR 118 adalah hari ke- 21,56, IRR 112 hari ke-23,96 dan PB 260 terjadi pada hari ke-22,06. Ketiganya tidak berbeda nyata. Rata-rata waktu melentis untuk mata prima 20,89 dan mata burung 23,11.

            Pertumbuhan tunas menunjukkan pola yang tidak jauh berbeda antara mata burung dan mata prima (Gambar 2). Penggunaan mata burung cenderung menunjukkan pertumbuhan tunas yang lebih lambat pada klon PB 260. IRR 118 dan IRR 112 cenderung menunjukkan pertumbuhan tunas yang tidak jauh berbeda untuk kedua jenis mata tunas. Secara umum, klon IRR 118 menunjukkan pertumbuhan tunas yang lebih baik untuk bibit roottrainer pada pengamatan hingga /payung pertama.

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «