Efisiensi Biaya Distribusi Dan Penanaman Bibit Karet Root Trainer VS Bibit Tabela

Telah dibahas pada edisi sebelumnya bahwa bibit karet root trainer memiliki banyak kelebihan dibanding bibit karet tabela.

Telah dibahas pada edisi sebelumnya bahwa bibit karet root trainer memiliki banyak kelebihan dibanding bibit karet tabela.

Salah satu kelebihan tersebut yaitu bibit karet root trainer memiliki bentuk dan bobot yang lebih kecil dibanding bibit tabela.

Berkaitan dengan hal tersebut akan sangat mempengaruhi biaya distribusinya, baik dari Balai Penelitian Getas ke kebun tujuan maupun distribusi saat akan pindah tanam ke lahan.

Pada artikel ini akan membahas biaya distribusi dan penanaman bibit karet root trainer dibandingkan bibit tabela pada kasus di PTPN Jawa Tengah.

Seperti tergambar dan dirinci pada Tabel 1, penggunaan bibit karet root trainer dapat menghemat biaya distribusi dan penanaman ke lahan.

Apabila Kebun PTPN memproduksi bibit sendiri maka yang dapat dihemat hanyalah biaya distribusi bibit dari Balai Penelitian Getas ke kebun tujuan, sedangkan biaya distribusi lokal (dari kebun pembibitan ke lahan) dan biaya penanaman jauh lebih efisien apabila menggunakan bibit karet root trainer.

Hal tersebut dikarenakan jumlah bibit yang dapat diangkut dalam sekali perjalanan lebih banyak apabila menggunakan bibit root trainer.

Menggunakan angkutan truk dapat memuat hingga ± 6.000 bibit root trainer, sedangkan dengan bibit tabela hanya dapat memuat ± 200 bibit.

Selain itu biaya penanaman bibit root trainer jauh lebih efisien. Dikarenakan bentuknya yang kecil sehingga lubang tanam yang diperlukan juga lebih kecil.

Prestasi kerja dalam pembuatan lubang tanam dapat mencapai 100 lubang/HOK. Sedangkan pembuatan lubang tanam untuk tabela di PTPN biasanya menggunakan alat berat seperti backhoe dengan biaya yang lebih besar.

Apabila dihitung nilainya maka biaya pembuatan lubang tanam untuk bibit root trainer hanya Rp 300,-/lubang, sedangkan untuk bibit tabela dapat mencapai Rp 3.750,-/lubang, sehingga dapat menghemat 92% untuk biaya pembuatan lubang tanam.

Jika dibandingkan secara keseluruhan dari biaya distribusi hingga penanaman apabila harga bibit root trainer dan tabela sama, maka penggunaan bibit karet root trainer dapat menghemat biaya sebesar Rp 2.745.208,-/ha (35 %). (NDR)

Salah satu kelebihan tersebut yaitu bibit karet root trainer memiliki bentuk dan bobot yang lebih kecil dibanding bibit tabela.

Berkaitan dengan hal tersebut akan sangat mempengaruhi biaya distribusinya, baik dari Balai Penelitian Getas ke kebun tujuan maupun distribusi saat akan pindah tanam ke lahan.

Pada artikel ini akan membahas biaya distribusi dan penanaman bibit karet root trainer dibandingkan bibit tabela pada kasus di PTPN Jawa Tengah.

Seperti tergambar dan dirinci pada Tabel 1, penggunaan bibit karet root trainer dapat menghemat biaya distribusi dan penanaman ke lahan.

Apabila Kebun PTPN memproduksi bibit sendiri maka yang dapat dihemat hanyalah biaya distribusi bibit dari Balai Penelitian Getas ke kebun tujuan, sedangkan biaya distribusi lokal (dari kebun pembibitan ke lahan) dan biaya penanaman jauh lebih efisien apabila menggunakan bibit karet root trainer.

Hal tersebut dikarenakan jumlah bibit yang dapat diangkut dalam sekali perjalanan lebih banyak apabila menggunakan bibit root trainer.

Menggunakan angkutan truk dapat memuat hingga ± 6.000 bibit root trainer, sedangkan dengan bibit tabela hanya dapat memuat ± 200 bibit.


Selain itu biaya penanaman bibit root trainer jauh lebih efisien. Dikarenakan bentuknya yang kecil sehingga lubang tanam yang diperlukan juga lebih kecil.

Prestasi kerja dalam pembuatan lubang tanam dapat mencapai 100 lubang/HOK. Sedangkan pembuatan lubang tanam untuk tabela di PTPN biasanya menggunakan alat berat seperti backhoe dengan biaya yang lebih besar.

Apabila dihitung nilainya maka biaya pembuatan lubang tanam untuk bibit root trainer hanya Rp 300,-/lubang, sedangkan untuk bibit tabela dapat mencapai Rp 3.750,-/lubang, sehingga dapat menghemat 92% untuk biaya pembuatan lubang tanam.

Jika dibandingkan secara keseluruhan dari biaya distribusi hingga penanaman apabila harga bibit root trainer dan tabela sama, maka penggunaan bibit karet root trainer dapat menghemat biaya sebesar Rp 2.745.208,-/ha (35 %). (NDR)

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

FAKTOR PENTING DALAM PENGHITUNGAN TAKSASI PRODUKSI SEJAK MEMASUKI FASE TM 1

Ketika tanaman karet telah memasuki fase tahun pertama disadap (TM 1), seringkali penentuan target produktivitas 1 tahun ditentukan secara global (gebyah uyah_red), misalnya ditarget 400 kg/ha, 600 kg/ha, bahkan saking semangatnya kadang ditarget sebesar 1.000 kg/ha.

Target tersebut sah-sah saja asalkan didukung beberapa faktor penting, yaitu berdasarkan kondisi aktual dan kemampuan fisiologis individu tanaman.

Ada 4 (empat) faktor penting yang harus kita perhatikan ketika menyusun target produksi, yaitu (i) estimasi GTT; (ii) populasi pohon disadap; (iii) estimasi hari sadap efektif / HSE; (iv) interaksi diantara ketiga faktor tersebut.

GTT menggambarkan kemampuan individu tanaman menghasilkan produksi lateks ketika disadap, memiliki satuan gram/tree/tapping atau gram/pohon/sadap. Perolehan GTT dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain jenis klon, umur TM, posisi panel sadap, sistem sadap, kondisi fisiologis tanaman, perlakuan penyadapan sebelum-sebelumnya, kesehatan tanaman, kesesuaian lahan dan agroklimat dsb.

Standar GTT pada setiap klon, umur TM, kondisi lahan dsb sangat diperlukan sebagai referensi dalam penghitungan taksasi produksi karet.

Produktivitas dalam satuan kg/ha adalah korelasi antara produksi yang dihasilkan setiap individu tanaman (GTT) dengan populasi tanaman efektif (yang dapat disadap) per satuan luas, misalnya per hektar.

Semakin utuh populasi tanaman per hektar (hingga batas tertentu), maka produktivitas akan optimal. Selain GTT dan populasi, faktor penentu lainnya adalah HSE atau hari sadap efektif.

HSE adalah jumlah hari sadap dalam periode waktu tertentu, misalnya penyadapan d3 akan diperoleh sebanyak ±120 HSE, penyadapan d4 sekitar ± 90 HSE, dst.

Tingkat lowong sadap atau kemangkiran juga mempengaruhi berkurangnya HSE Dalam menerapkan penghitungan taksasi produksi, ketiga faktor yaitu GTT, populasi dan HSE juga dapat berinteraksi mempengaruhi capaian produktivitas, sebagai contoh sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan contoh di atas, kebun A yang memiliki kondisi aktual seperti pertumbuhan tanaman tergolong baik dan standar sehingga estimasi capaian GTT diperkirakan normatif/sesuai acuan standar, yaitu sekitar 15 gram/pohon/sadap. Populasi pohon dapat disadap di kebun A mencapai 90% yaitu 500 pohon/ha. Adapun hari sadap efektif juga tergolong normatif yaitu 90 HSE. Berdasarkan kondisi tersebut diperkirakan capaian produktivitas selama 1 tahun sekitar 675 kg/ha/th.

Berbeda dengan kebun B yang menggunakan jarak tanam lebih rapat, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu ditandai jumlah pohon yang dapat disadap hanya 467 pohon/ha dari 667 pohon/ha. Meskipun tanaman karet disadap dengan sistem sadap yang sama yaitu S2d4 di panel BO-1, namun karena dampak populasi rapat sehingga capaian GTT diperkirakan lebih rendah yaitu sekitar 11,3 gram/pohon/sadap. Dengan kondisi seperti itu, diperkirakan capaian produktivitas selama 1 tahun sekitar 473 kg/ha.

Berbeda lagi dengan kebun C yang menggunakan jarak tanam lebih rapat lagi, sehingga dampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman dan capaian GTT sangat signifikan. Namun karena kebun C disadap dengan sistem sadap S2d3, sehingga HSE lebih banyak dibandingkan sistem sadap S2d4. Meskipun populasi pohon disadap lebih sedikit dan estimasi GTT lebih rendah, namun karena HSE lebih banyak, maka capaian produktivitas sedikit lebih tinggi dibandingkan kebun B, yaitu sekitar 480 kg/ha.

Dengan metode yang sama seperti dicontohkan di atas, penghitungan taksasi produksi tanaman karet pada setiap fase umur TM dapat dilakukan dengan memperhatikan 4 faktor utama tersebut. (AR).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

GULMA: TIGA TAHUN PERTAMA YANG MENGHANYUTKAN

Gulma merupakan salah satu organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman karet yang berpengaruh besar terhadap pertumbuhan dan kesehatan tanaman.

Pertumbuhan gulma yang cepat, terutama pada kebun karet yang belum menghasilkan, dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman karet terhambat sehingga dapat mengakibatkan mundurnya waktu matang sadap.

Fase kritis TBM karet terkait gangguan gulma terutama pada umur 1-3 tahun. Seringkali pada fase inilah, pengendalian gulma tidak menjadi prioritas penting dan diabaikan.

Akibat kurangnya perhatian tersebut, sering dijumpai tanaman jauh di bawah standar pada akhir tahun ketiga, sehingga sisa waktu 2 tahun pada TBM IV dan V tidak cukup untuk mengejar ketertinggalan yang terjadi.

Cap “gulma jahat” yang disematkan pada jenis gulma tertentu tidak hanya menjadi pengaya istilah dalam buku panduan teknis pemeliharaan tanaman karet. Sebagai contoh, Imperata cylindrica atau alang-alang, menjadi salah satu gulma dalam

kategori tersebut karena sifatnya yang tidak hanya sebagai pesaing tanaman utama, tetapi juga kemampuan bertahan hidup dan pertumbuhannya yang luar biasa, bahkan mampu menghasilkan zat allelopati yang mampu menghambat pertumbuhan tanaman utama.

Gulma lain yang berdaun sempit seperti Ottchloa nodosa, Paspalum conjugatum, Axonopus compressus, maupun gulma berdaun lebar seperti Mikania micrantha, Synedrella nodiflora, Borreria alata, juga berpengaruh besar terhadap pertumbuhan tanaman karet jika tidak terkendali.

Bahkan tanaman penutup tanah kacangan yang seharusnya bermanfaat bagi tanaman, seperti Mucuna bracteata, Centrosema pubescens, Calopogonium caeruleum, juga menjadi gulma jika tidak dikendalikan dengan baik.

Pengendalian gulma tetap diperlukan sepanjang siklus tanaman karet, namun yang menjadi fokus utama tulisan ini adalah pentingnya pengendalian gulma pada 3 tahun pertama budidaya tanaman karet.

Pada periode tersebut, setiap tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak dikehendaki dan memiliki pertumbuhan cepat, daya saing kuat, mampu tumbuh pada berbagai kondisi lingkungan, mudah berkembang biak dan menyebar, dan memiliki sifat dormansi, dapat dianggap sebagai gulma dan wajib dikendalikan.

Pengendalian dapat dilakukan secara manual atau mekanis, misalnya dengan pembersihan gulma di piringan tanaman karet pada awal TBM I, pembabatan gulma di gawangan, dan lain-lain. Secara kimia, penggunaan herbisida merupakan salah satu metode yang sangat familiar di kalangan pekebun, termasuk pada 3 tahun pertama penanaman karet.

Cara ini dapat dilakukan 4 kali dalam setahun, baik di gawangan maupun larikan. Cara pengendalian gulma lain dapat dilakukan secara kultur teknis, misalnya dengan penanaman penutup tanah kacangan atau pemanfaatan gawangan untuk pola tanam tumpangsari.(BS).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «