DINAMIKA HARGA KARET ALAM

 

Harga karet alam dari waktu ke waktu sangat berfluktuasi. Beberapa faktor yang mengakibatkan harga karet fluktuatif antara lain, keseimbangan pasokan dan permintaan, kondisi perekonomian internasional, harga minyak bumi, dan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS dan Yen.

Sejak tahun 2001, harga karet terus naik seiring dengan meningkatnya permintaan akibat perkembangan industri yang memerlukan bahan baku karet alam. Harga karet sempat turun pada tahun 2009 yang disebabkan oleh krisis global yang terjadi sejak akhir tahun 2008, namun pada tahun 2010 harga karet meningkat kembali. Peningkatan harga karet sepanjang tahun 2010 disebabkan oleh ketidakseimbangan antara supply-demand. Pada tahun 2010 produksi karet alam dunia lebih rendah dibandingkan konsumsinya sehingga terjadi excess demand sebesar 174 ribu ton. Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang mendongkrak harga karet alam dunia mencapai level tertinggi di tahun 2011. Namun dalam rentang waktu mulai tahun 2012 hingga pertengahan tahun 2015, harga karet mengalami perubahan yang sangat signifikan. Harga karet yang sebelumnya mencapai 4,5 US$/kg di tahun 2011 terus menurun hingga menjadi US$ 1,36 per kg (SICOM, 2015). Fluktuasi harga karet sejak tahun 1998 hingga 2015 ditampilkan pada Gambar 1.

Read the rest of this entry »

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

 

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI PERKEBUNAN KARET

Sistem perkebunan berkelanjutan akan terwujud hanya apabila lahan digunakan untuk sistem perkebunan yang tepat dengan cara pengelolaan lahan yang sesuai. Apabila lahan tidak di gunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam kerusakan. Penanganan manajemen lahan di perkebunan karet umumnya dilakukan secara sepotong-sepotong, tidak menyeluruh atau secara spasial sehingga pada akhirnya hasil yang didapatkan tidak maksimal dan tidak berkelanjutan. Luas lahan yang lebih dari 1000 ha dengan topografi umumnya adalah berombak sampai dengan berbukit memerlukan teknologi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mengintegrasikan masalah dengan cakupan wilayah tersebut. Permasalahan utama jika diurutkan dari yang terberat sampai dengan teringan secara umum adalah pengelolaan produksi karet, pengelolaan penyakit, pengelolaan hara (pemeliharaan tanaman). Penginderaan jauh merupakan suatu cara untuk mendapatkan secara cepat sehingga permasalahan yang terkait dengan cara tersebut dapat diatasi dengan cepat dibandingkan dengan cara konvensional.

Read the rest of this entry »

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «