𝐏𝐎𝐓𝐄𝐍𝐒𝐈 𝐓𝐀𝐍𝐀𝐌𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐓 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐁𝐈𝐎𝐏𝐇𝐀𝐑𝐌𝐈𝐍𝐆

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmailby feather

Kemajuan dalam bidang teknologi rekombinasi DNA telah membuka banyak penelitian yang lebih menjanjikan, seperti biopharming atau molecular pharming selama dua dekade terakhir.

Biopharming atau molecular pharming adalah teknologi yang memanfaatkan tanaman atau hewan ternak untuk menghasilkan protein atau senyawa metabolit tertentu yang bernilai untuk kepentingan manusia, seperti untuk pengobatan.

Teknologi tersebut memungkinkan mengkonversi tanaman sebagai pabrik hidup untuk memproduksi zat-zat tertentu melalui sintesis produk yang bernilai komersial tinggi.

Termasuk membuka peluang pemanfaatan lateks yang tidak hanya untuk industri manufaktur seperti ban dan bantalan, namun juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan memproduksi protein atau senyawa tertentu.

Penggunaan tanaman untuk memproduksi protein rekombinan untuk tujuan pengobatan menunjukkan banyak perkembangan akhir-akhir ini dan menawarkan banyak sekali kemudahan dan keuntungan.

Produksi zat tertentu secara masal oleh tanaman memiliki kelebihan seperti lebih efisien karena tanpa bioreaktor buatan, mengurangi resiko kontaminasi, tanpa sistem pemurnian yang rumit serta kapasitas yang berkelanjutan mengikuti siklus hidup tanaman.

Penggunaan tanaman sebagai bioreaktor akan efektif hanya ketika tanaman memiliki stabilitas produksi yang tinggi sepanjang siklus hidupnya hingga generasi selanjutnya, yang akan menjamin biaya yang minimum.


Tanaman karet memiliki keuntungan yang unik dibandingkan tanaman lain untuk biopharming.

Sebagai contoh, lateks terdiri dari partikel karet, lutoid dan organel membran ganda yang kaya akan karotenoid dan partikel Frey-Wysling, yang semuanya merupakan mesin sintesis protein yang sempurna, ketika gen yang diinginkan berhasil disisipkan.

Di samping ada keuntungan lain yaitu lateks dipanen dengan metode non-destruktif (tanpa mematikan tanaman), yang akan terus berlanjut selama satu siklus hidup tanaman sekitar 20-25 tahun bahkan lebih.

Tanaman karet juga diperbanyak secara vegetatif sehingga menjadi faktor berikutnya yang akan mendukung keberlanjutan biofarmasi transgenik karena akan diturunkan secara genetik.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, tanaman karet sangat berpotensi menjadi kandidat sebagai tanaman biopharming.

Tanaman transgenik kini semakin banyak digunakan untuk memproduksi beragam protein rekombinan, termasuk biovaksin, protein terapeutik dan antibodi untuk imunoterapi.


Beberapa hasil penelitian menunjukkan keberhasilan transformasi genetik pada tanaman karet.

Arokiaraj dkk pada tahun 2002 telah berhasil mengembangkan tanaman karet transgenik yang dapat mensekresi human serum albumin (HSA) dalam serum lateks melalui perantara Agrobacterium.

Yeang dkk pada tahun yang sama juga berhasil menunjukkan ekspresi rekombinan antibodi fungsional single-chain variable fragment (ScFv) di dalam lateks transgenik.

Pada tahun 2006, Kala dkk berhasil mentransformasi Hevea menggunakan protein antigen TB yang diisolasi dari Mycobacterium tuberculosis.

Sunderasan dkk pada tahun 2012 juga melaporkan tanaman Hevea brasiliensis transgenik berhasil menunjukkan ekspresi dari gen yang mengkode human atrial natriuretic factor (hANF), sebuah hormon peptid yang diperlukan dalam mengatur tekanan darah penderita penyakit jantung.

Ke depan, penelitian biopharming untuk pengobatan melalui teknologi transgenik akan semakin berkembang, dan tanaman karet sangat berpotensi menjadi sarana produksi biofarmasi yang efisien karena kandungan lateksnya yang mudah dipanen, siklus hidup yang lama dan mudah diperbanyak secara vegetatif melalui okulasi.

(Sumber : Advances in Plant Breeding Strategies: Industrial and Food Crops Volume 6 tahun 2019).( LA)

linkedinrssyoutubeby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published.