«

»

ANALISIS EKONOMI PENYADAPAN DENGAN STIMULANSIA GAS VS PENYADAPAN KONVENSIONAL PADA SAAT KONDISI HARGA KARET RENDAH

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Penerapan teknologi stimulan gas etilen agar layak diterapkan, maka hal utama yang disyaratkan adalah perolehan tambahan produksi karet harus mampu mengganti segala biaya yang timbul sebagai konsekuensi dari penerapan teknologi ini. Syarat produksi ini akan semakin tinggi apabila harga jual karet pada kondisi rendah. Pada kondisi ini, seringkali timbul pertanyaan apakah masih menguntungkan teknologi stimulansia gas diterapkan dan bagaimana jika dibandingkan dengan penyadapan konvensional. Untuk menjawab pertanyaan tersebut sekaligus memberikan gambaran bagi para pekebun, dilakukan penelitian mengenai produktivitas dan analisis ekonomi pada penyadapan menggunakan stimulansia gas dan penyadapan konvensional pada saat harga karet rendah.

Dari hasil penelitian, pada penggunaan stimulan gas diperoleh produktivitas sebesar 166,9 gr/pohon/sadap atau 25,0 Kg/HKO. Pada kondisi harga karet rendah (diasumsikan hingga 1,1 USD/Kg), produktivitas tersebut ternyata masih belum dapat mencapai BEP atau masih mengalami kerugian (R/C ratio sebesar 0,97). Kriteria BEP produksi dapat dicapai jika perolehan GTT adalah 178,0 gr/pohon/sadap atau 26,7 Kg/HKO. Perolehan produksi jika sesuai dengan hasil penelitian ini (GTT 166,9 gr/pohon/sadap atau 25,0 Kg/HKO) dapat mencapai BEP apabila kondisi harga jual karet naik menjadi IDR 15.025/Kg atau setara dengan 1,14 USD/Kg. Penyadapan dengan stimulan gas walaupun sudah menghasilkan GTT yang tergolong tinggi, namun masih belum memberikan keuntungan. Terlebih jika harga teknologi stimulan gas etilen dijual dengan harga sangat mahal. Biaya terbesar pada penyadapan dengan stimulan gas adalah komponen investasi alat dan bahan gas etilen yaitu mencapai 24% serta premi kelebihan basis sebesar 22% dari total biaya. Dengan kondisi harga jual karet yang sama (1,1 USD/Kg), pada penyadapan konvensional (tanpa stimulan) juga mengalami kerugian (R/C ratio sebesar 0,58). Kriteria BEP produksi pada penyadapan konvensional dapat dicapai jika perolehan GTT adalah 60,6 gr/pohon/sadap atau 7,8 Kg/HKO.

Dalam kondisi harga karet rendah, penyadapan menggunakan stimulansia gas maupun penyadapan konvensional sama-sama tidak efisien, namun nilai kerugian pada penerapan stimulansia gas lebih kecil dibandingkan pada penyadapan konvensional. Hal ini dikarenakan dengan penggunaan stimulansia gas dapat menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi, sehingga penerimaan juga semakin besar [NDR/04].

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>