Analisis Hara Daun untuk Mendukung Penerapan LFT

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmailby feather

foto: Dr. Hananto Hadi

Penurunan frekuensi sadap saat ini mulai banyak diterapkan di perkebunan-perkebunan karet di Indonesia. Penurunan frekuensi sadap tentu saja diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap kesehatan tanaman.

Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan tanaman karet adalah analisis kandungan hara daun. Kondisi hara dalam tanaman karet sangat dipengaruhi oleh lateks yang dihasilkan.

Hal tersebut dikarenakan di dalam lateks yang dihasilkan oleh tanaman, terdapat hara yang ikut hilang dari tanaman. Penerapan LFT yang berpengaruh terhadap produksi total tentu dapat juga mempengaruhi keseimbangan hara dalam tanaman.

Menurut Pushparajah et al., (1972) secara umum hara yang hilang terbawa bersama 1.000 kg karet kering sebesar 9,2 kg N; 2,2 kg P; 7,5 kg K; dan 1,5 kg Mg. Sehingga, dengan semakin besar produksi tanaman karet, maka tambahan hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk menjaga keseimbangan haranya juga semakin besar.

Sebaliknya pula, jika produksi total tanaman menjadi lebih rendah, maka tambahan hara yang dibutuhkan tanaman juga menjadi lebih sedikit. Hal yang cukup menarik pernah ditemukan dari hasil penerapan LFT ini adalah tajuk yang lebih baik ketika diterapkan penyadapan dengan frekuensi rendah dan dikombinasikan dengan aplikasi stimulan gas.

Tajuk daun yang awalnya Ringan setelah diaplikasikan LFT dengan Stimulan gas berubah menjadi sedang sampai dengan lebat (berat). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan LFT dengan dikombinasikan stimulant yang tepat bisa jadi meningkatkan serapan hara tanaman yang korelasinya bisa menghemat pupuk yang diberikan.

Oleh karena itu penelitian Korelasi Hara Daun dengan Penerapan LFT yang dikombiansikan Stimulan tertentu menjadi hal yang perlu di kembangkan (RCP).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published.