«

APLIKASI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS DI PERKEBUNAN KARET

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Sistem perkebunan berkelanjutan akan terwujud hanya apabila lahan digunakan untuk sistem perkebunan yang tepat dengan cara pengelolaan lahan yang sesuai. Apabila lahan tidak di gunakan dengan tepat, produktivitas akan cepat menurun dan ekosistem menjadi terancam kerusakan. Penanganan manajemen lahan di perkebunan karet umumnya dilakukan secara sepotong-sepotong, tidak menyeluruh atau secara spasial sehingga pada akhirnya hasil yang didapatkan tidak maksimal dan tidak berkelanjutan. Luas lahan yang lebih dari 1000 ha dengan topografi umumnya adalah berombak sampai dengan berbukit memerlukan teknologi yang cepat, akurat, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mengintegrasikan masalah dengan cakupan wilayah tersebut. Permasalahan utama jika diurutkan dari yang terberat sampai dengan teringan secara umum adalah pengelolaan produksi karet, pengelolaan penyakit, pengelolaan hara (pemeliharaan tanaman). Penginderaan jauh merupakan suatu cara untuk mendapatkan secara cepat sehingga permasalahan yang terkait dengan cara tersebut dapat diatasi dengan cepat dibandingkan dengan cara konvensional.

Pengelolaan produksi berdasarkan pendekatan spasial ekologis yang memperhatikan kondisi lahan (tanah, iklim, dan tanaman) belum di aplikasikan dengan baik di perkebunan karet sehingga taksasi produksi yang dijadikan acuan untuk mendapatkan produksi pada tahun berjalan berikutnya tidak sesuai dengan potensi tanaman, iklim, ataupun tanah. Taksasi yang tidak sesuai ini menyebabkan eksploitasi kulit menjadi berlebihan sehingga pemakaiannya tidak sesuai dengan norma yang pada akhirnya, pola produksi yang diset selama 25 tahun menjadi menurun kurang dari 15 tahun. Penginderaan jauh dan sistem informasi geografis sangat berperan untuk menentukan taksasi produksi ini secara spasial. Ketinggian tempat dapat diturunkan dengan memanfaatkan citra radar SRTM, pola drainase tanah dapat diturunkan dengan menggunakan citra SRTM dan ASTER. Hasil peta ketinggian dan drainase kemudian dioverlay dengan peta tanah (tekstur) dan digabungkan dengan data iklim menggunakan software sistem informasi geografis. Setelah didapatkan nilai potensi produksi tersebut maka hal lain yang perlu diperhatikan adalah penyakit. Penyakit ini pola serangannya tidak sama masing-masing kebun. Aktifnya penyakit ini juga dapat didekati secara spasial ekologis sehingga penanaman tanaman karet yang secara genetik tahan terhadap serangan penyakit tertentu pada blok tertentu dapat dilakukan. Penelitian pendekatan secara spasial ekologis potensi penyakit tanaman karet belum banyak dilakukan di Indonesia. Oleh karena itu dengan majunya teknologi pemetaan terutama penginderaan jauh dan SIG. Integrasi pengelolaan perkebunan dengan memperhatikan ekologi secara spasial akan meningkatkan produktivitas lahan dan tingkat produksi yang bersifat stabil tinggi.

Pemupukan merupakan bagian dari pemeliharaan tanaman pada suatu sistem perkebunan. Selama ini proses analisa kebutuhan pupuk tiap tahun masih dilakukan secara konvensional dengan pendekatan kuantitaif. Penginderaan jauh sebagai salah satu ilmu untuk mengamati pola keruangan kekurangan hara suatu tanaman mungkin dapat dilakukan. Pengetahuan tentang bagaimana nilai spectral daun berubah karena pengaruh karateristik tanah merupakan kunci interpretasi antar species pada tumbuhan. Sebab penampakan daun dipengaruhi oleh umur, posisi kanopi, dan kesuburan tanah. Model komprehensif tentang nilai spektral daun suatu tanaman harus memperhatikan hubungan tanah, hara, dan tanaman. HasilĀ  penelitian beliau menyebutkan bahwa konsentrasi hara tanah dan tingkat keracunan mempengaruhi nilai specktral yang dipantulkan.

Pembuatan sistem informasi perkebunan yang mengintegrasikan data penginderaan jauh, data survei lapangan secara temporal dengan sistem informasi geografis (SIG) merupakan suatu cara untuk memanejeman lahan perkebunan secara utuh. Aplikasi penginderaan jauh di bidang perkebunan khususnya untuk tanaman karet dapat dilakukan. Beberapa penelitian baik itu dibidang penyakit, tanah dan iklim, dan agronomi telah banyak dilakukan sebelumnya untuk jenis tanaman lainnya. Integrasi dengan Sistem Informasi Geografis merupakan salah satu cara untuk memonitor kedaaan tanaman secara spasial. Integrasi keduanya yaitu penginderaan jauh dan SIG dapat diaplikasikan dan sangat membantu untuk memanajemen lahan di perkebunan karet. [IS/05]

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>