FAKTOR PENTING DALAM PENGHITUNGAN TAKSASI PRODUKSI SEJAK MEMASUKI FASE TM 1

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmailby feather

Ketika tanaman karet telah memasuki fase tahun pertama disadap (TM 1), seringkali penentuan target produktivitas 1 tahun ditentukan secara global (gebyah uyah_red), misalnya ditarget 400 kg/ha, 600 kg/ha, bahkan saking semangatnya kadang ditarget sebesar 1.000 kg/ha.

Target tersebut sah-sah saja asalkan didukung beberapa faktor penting, yaitu berdasarkan kondisi aktual dan kemampuan fisiologis individu tanaman.

Ada 4 (empat) faktor penting yang harus kita perhatikan ketika menyusun target produksi, yaitu (i) estimasi GTT; (ii) populasi pohon disadap; (iii) estimasi hari sadap efektif / HSE; (iv) interaksi diantara ketiga faktor tersebut.

GTT menggambarkan kemampuan individu tanaman menghasilkan produksi lateks ketika disadap, memiliki satuan gram/tree/tapping atau gram/pohon/sadap. Perolehan GTT dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain jenis klon, umur TM, posisi panel sadap, sistem sadap, kondisi fisiologis tanaman, perlakuan penyadapan sebelum-sebelumnya, kesehatan tanaman, kesesuaian lahan dan agroklimat dsb.

Standar GTT pada setiap klon, umur TM, kondisi lahan dsb sangat diperlukan sebagai referensi dalam penghitungan taksasi produksi karet.

Produktivitas dalam satuan kg/ha adalah korelasi antara produksi yang dihasilkan setiap individu tanaman (GTT) dengan populasi tanaman efektif (yang dapat disadap) per satuan luas, misalnya per hektar.

Semakin utuh populasi tanaman per hektar (hingga batas tertentu), maka produktivitas akan optimal. Selain GTT dan populasi, faktor penentu lainnya adalah HSE atau hari sadap efektif.

HSE adalah jumlah hari sadap dalam periode waktu tertentu, misalnya penyadapan d3 akan diperoleh sebanyak ±120 HSE, penyadapan d4 sekitar ± 90 HSE, dst.

Tingkat lowong sadap atau kemangkiran juga mempengaruhi berkurangnya HSE Dalam menerapkan penghitungan taksasi produksi, ketiga faktor yaitu GTT, populasi dan HSE juga dapat berinteraksi mempengaruhi capaian produktivitas, sebagai contoh sebagaimana disajikan pada Tabel 1.

Berdasarkan contoh di atas, kebun A yang memiliki kondisi aktual seperti pertumbuhan tanaman tergolong baik dan standar sehingga estimasi capaian GTT diperkirakan normatif/sesuai acuan standar, yaitu sekitar 15 gram/pohon/sadap. Populasi pohon dapat disadap di kebun A mencapai 90% yaitu 500 pohon/ha. Adapun hari sadap efektif juga tergolong normatif yaitu 90 HSE. Berdasarkan kondisi tersebut diperkirakan capaian produktivitas selama 1 tahun sekitar 675 kg/ha/th.

Berbeda dengan kebun B yang menggunakan jarak tanam lebih rapat, sehingga pertumbuhan tanaman terganggu ditandai jumlah pohon yang dapat disadap hanya 467 pohon/ha dari 667 pohon/ha. Meskipun tanaman karet disadap dengan sistem sadap yang sama yaitu S2d4 di panel BO-1, namun karena dampak populasi rapat sehingga capaian GTT diperkirakan lebih rendah yaitu sekitar 11,3 gram/pohon/sadap. Dengan kondisi seperti itu, diperkirakan capaian produktivitas selama 1 tahun sekitar 473 kg/ha.

Berbeda lagi dengan kebun C yang menggunakan jarak tanam lebih rapat lagi, sehingga dampak negatif terhadap pertumbuhan tanaman dan capaian GTT sangat signifikan. Namun karena kebun C disadap dengan sistem sadap S2d3, sehingga HSE lebih banyak dibandingkan sistem sadap S2d4. Meskipun populasi pohon disadap lebih sedikit dan estimasi GTT lebih rendah, namun karena HSE lebih banyak, maka capaian produktivitas sedikit lebih tinggi dibandingkan kebun B, yaitu sekitar 480 kg/ha.

Dengan metode yang sama seperti dicontohkan di atas, penghitungan taksasi produksi tanaman karet pada setiap fase umur TM dapat dilakukan dengan memperhatikan 4 faktor utama tersebut. (AR).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published.