Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihan

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Sɪsᴛᴇᴍ Sᴀᴅᴀᴘ Iɴᴛᴇɴsɪᴛᴀs Rᴇɴᴅᴀʜ ᴅᴀɴ Pᴇɴɢᴀʀᴜʜɴʏᴀ ᴛᴇʀʜᴀᴅᴀᴘ Sᴛᴀᴛᴜs Fɪsɪᴏʟᴏɢɪ Kʟᴏɴ PR 107 (Hᴀsɪʟ Pᴇɴᴇʟɪᴛɪᴀɴ Sᴇʟᴀᴍᴀ 21 Tᴀʜᴜɴ ᴅɪ Pᴀɴᴛᴀɪ Gᴀᴅɪɴɢ)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Soumahin et al. (2010) di Pantai Gading menunjukkan adanya perbedaan status fisiologi pada klon PR 107 menggunakan sistem sadap intensitas rendah. Sistem sadap intensitas rendah dengan aplikasi stimulansia konsentrasi tinggi (S/4d3 6d/7 8-10y(m) dan (S/2d6 6d/7 8-10/y(m)) mampu mengurangi tenaga sadap sekitar 10-50% dibandingkan sistem sadap standar (S/2d3 6d/7 4y(m)).

Sistem sadap intensitas rendah juga tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan secara umum hasilnya tetap menguntungkan dalam jangka panjang. Pada klon PR 107, status fisiologi tanaman menunjukkan hasil yang lebih baik dengan mengurangi panjang irisan sadap dan menambahkan konsentrasi stimulan dibandingkan mengurangi frekuensi sadap dengan panjang irisan dan konsentrasi stimulan standar.

Panjang irisan 1/4S menunjukkan adanya keseimbangan pada status fisiologi tanaman (Tabel 1). Persentase KAS juga menunjukkan hasil yang lebih rendah (Tabel 2).

Profil fisiologi tanaman yang baik ditunjukkan dengan tingginya perlindungan pada integritas lutoid, kecukupan pada ketersediaan energi bagi tanaman, persediaan glusida yang cukup, dan biosintesis isopren yang aktif.

Kesemuanya berhubungan dengan metabolisme regenerasi sel yang lebih baik dan tidak terjadi over-eksploitasi atau kelelahan fisiologi. Disimpulkan penggunaan sistem sadap intensitas rendah S/4d3 6d/710y(m) dan S/2d6 6d/710/y(m) dapat dipilih untuk klon PR 107.

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

PENERAPAN LOW FREQUENCY OF TAPPING DI KEBUN KARET, BAGAIMANA SISI SOSIALNYA?

Penerapan Low frequency of tapping (LFT) diharapkan mampu menjadi salah satu solusi langkanya ketersediaan tenaga kerja dan menekan biaya penyadapan. Menurut Nang et al., (2015) perubahan frekuensi sadap dari d3 menjadi d4 dapat meningkatkan gps (gram per pohon per sadap) sehingga produksi di saat hari sadap lebih tinggi daripada biasanya meskipun jumlah pohon yang disadap sama.

Adapun dari sisi penggunaan tenaga kerja dan biaya, Widyasari, et al (2017) berpendapat bahwa semakin rendah frekuensi sadap, maka kebutuhan tenaga penyadap semakin rendah, sehingga dapat menekan biaya penyadapan. Tabel 1., menunjukkan kebutuhan tenaga kerja per Ha pada berbagai frekuensi sadap. Meskipun demikian, bagaimana penerapannya jika ditinjau dari sisi sosialnya?

Di Kerala (India), Chandy et al. (2012) pernah melakukan ujicoba terhadap pekebun karet dan penyadap melalui survey terhadap 48 responden, dengan luasan areal 0,89 hingga 4,45 Ha. Pola kegiatan menyadapnya bervariasi, ada yang menyadap dengan mengupah tenaga kerja, dan ada yang menyadap sendiri termasuk juga dibantu oleh tenaga kerja dalam keluarga. Hasilnya, mengindikasikan bahwa luasan kebun karet merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam penerapan LFT.

Selain itu juga, ketergantungan terhadap tenaga kerja upahan dan jumlah pohon TM yang perlu disadap. Penolakan terhadap LFT terjadi pada pekebun karet yang memiliki luasan yang kecil dan populasi pohon yang sedikit. Hal tersebut terjadi dengan alasan kehilangan hari sadap, dan meningkatnya volume pekerjaan karena produksi yang lebih tinggi daripada biasanya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pekebun karet dapat mengatasinya dengan:

  1. Bagi petani, beralih menyadap sendiri karena luasannya hanya kecil.
  2. Bekerja tambahan di perkebunan karet lainnya karena jumlah hari sadap yang berkurang sehingga lebih longgar waktu kerjanya
  3. Bagi pekebun, memberi insentif tambahan kepada penyadap atas kelebihan produksi yang diperoleh akibat LFT.

Dengan demikian, kebijakan penerapan LFT sangat bergantung pada besar kecilnya luasan kebun karet dan ketersediaan tenaga penyadap (tenaga dalam keluarga, petani sendiri yang bisa menyadap sendiri kebunnya dan tenaga penyadap yang dibayar). Pengaturan kelembagaan untuk mengatasi variasi luasan kebun karet dan langkanya tenaga kerja sangat penting untuk menerapkan secara efektif LFT secara jangka panjang.

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «

» Newer posts