𝑴𝑬𝑵𝑼𝑱𝑼 𝑺𝑰𝑺𝑻𝑬𝑴 𝑷𝑬𝑵𝒀𝑨𝑫𝑨𝑷𝑨𝑵 𝑲𝑨𝑹𝑬𝑻 𝑩𝑬𝑹𝑩𝑨𝑺𝑰𝑺 𝑻𝑬𝑲𝑵𝑶𝑳𝑶𝑮𝑰 4.0

Dunia saat ini telah memasuki era revolusi industri yang ke-empat atau disebut juga Industri 4.0, yang ditandai dengan penggunaan mesin otomatis yang terintegrasi dengan jaringan internet.

Teknologi 4.0 yang saat ini populer tersebut adalah penerapan teknologi artificial intelligence, robot, drone, internet of things,dan kini sudah menjadi keniscayaan.

Bagaimana dengan sektor perkebunan, apakah teknologi 4.0 akan mendisrupsi perkebunan konvensional? Sektor perkebunan sekiranya juga perlu beradaptasi untuk menjawab tantangan ke depan.

Lalu apakah itu perkebunan 4.0? Perkebunan 4.0 adalah perkebunan dengan ciri pemanfaatan teknologi artificial intelegence, robot, internet of things, drone dan blockhain guna menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, dan berkelanjutan.

Di dunia perkebunan karet, sebenarnya penerapan penyadapan berbasis teknologi sudah mulai digaungkan sejak tahun 2010an, seperti pembuatan alat sadap elektrik ataupun digital.

Balit Getas sendiri sudah pernah membuat alat sadap elektrik, meskipun hingga saat ini masih belum bisa diterapkan skala luas karena masih banyak kendala yang muncul.

Ide alat sadap elektrik ini sendiri awalnya pun untuk memudahkan penyadap. Namun seiringnya waktu ketersediaan tenaga sadap yang terampil semakin berkurang.

Modifikasi sistem exploitasi dengan sistem sadap Low Tapping Frequency (LFT) yang digadang-gadang bisa menjawab permasalahan kekurangan tenaga sadap nyatanya juga belum optimal.

Selain itu juga ada digitalisasi dalam proses timbang hasil lateks (Timbangan digital) yang langung terintegrasi dengan laptop, sehingga memudahkan dalam proses pencatatan hasil.

Selain itu, meminimalisir eror. Timbangan Digital ini sudah lama diterapkan oleh beberapa perusahaan karet swasta di Sumatra dan beberapa tahun belakangan sudah mulai diterapkan di perkebunan karet milik negara.

Menjawab permasalahan kekurangan tenaga sadap yang sudah menjadi masalah global dan gencarnya wacana teknologi 4.0 ini pun menjadi motivasi untuk mendapatkan solusi dalam membuat sistem exploitasi dengan digitalisasi.

Seperti yang baru saja diluncurkan oleh Cina, yaitu Rubber Tapping Machines; sebuah mesin dipasang pada setiap pohon dengan sistem kendali otomatis sehingga dapat menyadap dengan sendirinya.

Selain itu juga ada Rubber Tapping Robot; sebuah robot yang disetting untuk dapat berjalan diperkebunan karet dan dapat menyadap pohon karet yang terpasang sensor. Kedua teknologi tersebut sudah siap untuk diujicobakan pada skala luas pada akhir 2019 ini.

Meskipun demikian, tetap terdapat kendala, penggunaan Rubber Tapping Machines dan Rubber Tapping Robot selain bertujuan sebagai pengganti penyadap yang terampil, juga diharapkan dapat menjadi langkah efisiensi terhadap biaya tenaga kerja dan biaya produksi.

Tapi dalam perakitan kedua teknologi tersebut tentu saja membutuhkan biaya infrastruktur yang cukup besar. Apalagi ditambah dengan wilayah perkebunan yang luas, tentu saja membutuhkan alat yang banyak pula.

Namun terlepas dengan banyaknya kendala dan tantangan yang dihadapi, dengan adanya teknologi 4.0 yang diterapkan pada agribisnis karet diharapkan dapat semakin mengoptimalkan upaya untuk penggalian dan pencapaian produksi tanaman karet.

Bukan dianggap sebagai gangguan melainkan sebagai solusi alternatif yang terus dapat dikembangkan seiring dengan perkembangan zaman. (MON)

Gambar mungkin berisi: satu orang atau lebih dan luar ruangan

linkedinrssyoutubeby feather

𝐏𝐎𝐓𝐄𝐍𝐒𝐈 𝐓𝐀𝐍𝐀𝐌𝐀𝐍 𝐊𝐀𝐑𝐄𝐓 𝐔𝐍𝐓𝐔𝐊 𝐁𝐈𝐎𝐏𝐇𝐀𝐑𝐌𝐈𝐍𝐆

Kemajuan dalam bidang teknologi rekombinasi DNA telah membuka banyak penelitian yang lebih menjanjikan, seperti biopharming atau molecular pharming selama dua dekade terakhir.

Biopharming atau molecular pharming adalah teknologi yang memanfaatkan tanaman atau hewan ternak untuk menghasilkan protein atau senyawa metabolit tertentu yang bernilai untuk kepentingan manusia, seperti untuk pengobatan.

Teknologi tersebut memungkinkan mengkonversi tanaman sebagai pabrik hidup untuk memproduksi zat-zat tertentu melalui sintesis produk yang bernilai komersial tinggi.

Termasuk membuka peluang pemanfaatan lateks yang tidak hanya untuk industri manufaktur seperti ban dan bantalan, namun juga dapat dimanfaatkan untuk kepentingan memproduksi protein atau senyawa tertentu.

Penggunaan tanaman untuk memproduksi protein rekombinan untuk tujuan pengobatan menunjukkan banyak perkembangan akhir-akhir ini dan menawarkan banyak sekali kemudahan dan keuntungan.

Produksi zat tertentu secara masal oleh tanaman memiliki kelebihan seperti lebih efisien karena tanpa bioreaktor buatan, mengurangi resiko kontaminasi, tanpa sistem pemurnian yang rumit serta kapasitas yang berkelanjutan mengikuti siklus hidup tanaman.

Penggunaan tanaman sebagai bioreaktor akan efektif hanya ketika tanaman memiliki stabilitas produksi yang tinggi sepanjang siklus hidupnya hingga generasi selanjutnya, yang akan menjamin biaya yang minimum.


Tanaman karet memiliki keuntungan yang unik dibandingkan tanaman lain untuk biopharming.

Sebagai contoh, lateks terdiri dari partikel karet, lutoid dan organel membran ganda yang kaya akan karotenoid dan partikel Frey-Wysling, yang semuanya merupakan mesin sintesis protein yang sempurna, ketika gen yang diinginkan berhasil disisipkan.

Di samping ada keuntungan lain yaitu lateks dipanen dengan metode non-destruktif (tanpa mematikan tanaman), yang akan terus berlanjut selama satu siklus hidup tanaman sekitar 20-25 tahun bahkan lebih.

Tanaman karet juga diperbanyak secara vegetatif sehingga menjadi faktor berikutnya yang akan mendukung keberlanjutan biofarmasi transgenik karena akan diturunkan secara genetik.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, tanaman karet sangat berpotensi menjadi kandidat sebagai tanaman biopharming.

Tanaman transgenik kini semakin banyak digunakan untuk memproduksi beragam protein rekombinan, termasuk biovaksin, protein terapeutik dan antibodi untuk imunoterapi.


Beberapa hasil penelitian menunjukkan keberhasilan transformasi genetik pada tanaman karet.

Arokiaraj dkk pada tahun 2002 telah berhasil mengembangkan tanaman karet transgenik yang dapat mensekresi human serum albumin (HSA) dalam serum lateks melalui perantara Agrobacterium.

Yeang dkk pada tahun yang sama juga berhasil menunjukkan ekspresi rekombinan antibodi fungsional single-chain variable fragment (ScFv) di dalam lateks transgenik.

Pada tahun 2006, Kala dkk berhasil mentransformasi Hevea menggunakan protein antigen TB yang diisolasi dari Mycobacterium tuberculosis.

Sunderasan dkk pada tahun 2012 juga melaporkan tanaman Hevea brasiliensis transgenik berhasil menunjukkan ekspresi dari gen yang mengkode human atrial natriuretic factor (hANF), sebuah hormon peptid yang diperlukan dalam mengatur tekanan darah penderita penyakit jantung.

Ke depan, penelitian biopharming untuk pengobatan melalui teknologi transgenik akan semakin berkembang, dan tanaman karet sangat berpotensi menjadi sarana produksi biofarmasi yang efisien karena kandungan lateksnya yang mudah dipanen, siklus hidup yang lama dan mudah diperbanyak secara vegetatif melalui okulasi.

(Sumber : Advances in Plant Breeding Strategies: Industrial and Food Crops Volume 6 tahun 2019).( LA)

linkedinrssyoutubeby feather

Pelatihan Budidaya Tanaman Karet

Balai Penelitian Getas merupakan unit kerja dari Pusat Penelitian Karet Indonesia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan kegiatan pelatihan budidaya tanaman karet di Indonesia. Tenaga-tenaga narasumber dari kegiatan pelatihan di Balai Penelitian Getas adalah para peneliti yang memiliki kompetensi dalam beberapa bidang penelitian tanaman karet.

Agenda Pelatihanlinkedinrssyoutubeby feather