Mutu Fisiologis : Bibit Karet Tipe Juvenil

Bagian tertua suatu tanaman secara kronologi umur adalah bagian bawah tetapi menurut terminologi ontogenik & pendewasaan adalah bagian yang paling muda (juvenil). Jadi sekalipun tunas baru pada batang yang sudah berbunga adalah daun muda, namun secara ontogenik jaringan tersebut bertipe dewasa (mature type) (Gambar 1). Inilah yang menyebabkan mengapa sangat dilarang menggunakan sumber entres dari tanaman produksi karena bersifat mature type.

Bibit karet tipe juvenil adalah istilah bibit karet yang memenuhi mutu fisiologis, yaitu berasal dari mata tunas yang bersifat juvenil & diokulasikan pada batang bawah yang terseleksi. Seringkali batang atas kurang mendapatkan perhatian juvenilitasnya, sehingga bibit okulasi cenderung bertipe dewasa. Konsep perubahan juvenilitas & dewasa menjadi bagian yang menarik pada tanaman Hevea & telah diketahui sejak awal 1939 (Baptist, 1939). Pada tanaman Hevea, fase juvenil & dewasa ditemukan baik pada tanaman asal biji maupun hasil okulasi (Songquan et al., 1990). Secara umum rentang umur 4-5 tahun adalah fase muda (juvenil), 5-6 tahun adalah fase transisi & diatas 6-7 tahun adalah fase dewasa (Seneviratne, 2000). Mengetahui fase perubahan perkembangan tanaman karet menjadi penting untuk memastikan batang bawah & batang atas sama-sama dalam kondisi juvenil. Mercykutty et al. (2014) membuktikan bahwa batang atas dari entres juvenilmencapai lilit batang dan buka sadap yang lebih cepat dibandingkan entres tua. Secara umum, pada tanaman yang belum dewasa, semakin mendekati leher akar, jaringan tanaman semakin bersifat juvenil. Konsep tersebut selanjutnya diaplikasikan pada manajemen tunas kebun entres, dimana selain dipastikan bibitnya bersifat juvenil, tunas yang diambil dianjurkan tidak terlalu tinggi dan terlalu jauh percabangannya. Pemangkasan tunas juga hendaknya mengikuti pola yang sama, yaitu mendekati leher akar (bersambung) [LA/01].

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

ANALISIS EKONOMI PENYADAPAN DENGAN STIMULANSIA GAS VS PENYADAPAN KONVENSIONAL PADA SAAT KONDISI HARGA KARET RENDAH

Penerapan teknologi stimulan gas etilen agar layak diterapkan, maka hal utama yang disyaratkan adalah perolehan tambahan produksi karet harus mampu mengganti segala biaya yang timbul sebagai konsekuensi dari penerapan teknologi ini. Syarat produksi ini akan semakin tinggi apabila harga jual karet pada kondisi rendah. Pada kondisi ini, seringkali timbul pertanyaan apakah masih menguntungkan teknologi stimulansia gas diterapkan dan bagaimana jika dibandingkan dengan penyadapan konvensional. Untuk menjawab pertanyaan tersebut sekaligus memberikan gambaran bagi para pekebun, dilakukan penelitian mengenai produktivitas dan analisis ekonomi pada penyadapan menggunakan stimulansia gas dan penyadapan konvensional pada saat harga karet rendah.

Dari hasil penelitian, pada penggunaan stimulan gas diperoleh produktivitas sebesar 166,9 gr/pohon/sadap atau 25,0 Kg/HKO. Pada kondisi harga karet rendah (diasumsikan hingga 1,1 USD/Kg), produktivitas tersebut ternyata masih belum dapat mencapai BEP atau masih mengalami kerugian (R/C ratio sebesar 0,97). Kriteria BEP produksi dapat dicapai jika perolehan GTT adalah 178,0 gr/pohon/sadap atau 26,7 Kg/HKO. Perolehan produksi jika sesuai dengan hasil penelitian ini (GTT 166,9 gr/pohon/sadap atau 25,0 Kg/HKO) dapat mencapai BEP apabila kondisi harga jual karet naik menjadi IDR 15.025/Kg atau setara dengan 1,14 USD/Kg. Penyadapan dengan stimulan gas walaupun sudah menghasilkan GTT yang tergolong tinggi, namun masih belum memberikan keuntungan. Terlebih jika harga teknologi stimulan gas etilen dijual dengan harga sangat mahal. Biaya terbesar pada penyadapan dengan stimulan gas adalah komponen investasi alat dan bahan gas etilen yaitu mencapai 24% serta premi kelebihan basis sebesar 22% dari total biaya. Dengan kondisi harga jual karet yang sama (1,1 USD/Kg), pada penyadapan konvensional (tanpa stimulan) juga mengalami kerugian (R/C ratio sebesar 0,58). Kriteria BEP produksi pada penyadapan konvensional dapat dicapai jika perolehan GTT adalah 60,6 gr/pohon/sadap atau 7,8 Kg/HKO.

Dalam kondisi harga karet rendah, penyadapan menggunakan stimulansia gas maupun penyadapan konvensional sama-sama tidak efisien, namun nilai kerugian pada penerapan stimulansia gas lebih kecil dibandingkan pada penyadapan konvensional. Hal ini dikarenakan dengan penggunaan stimulansia gas dapat menghasilkan produktivitas yang jauh lebih tinggi, sehingga penerimaan juga semakin besar [NDR/04].

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

YUK CARI TAHU TENTANG FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENYAKIT GUGUR DAUN (PGD) COLLETOTRICHUM

Penyakit gugur daun Colletotrichum pada tanaman karet pertama kali dilaporkan Arens 1914 di Malang Selatan, Jawa Timur. Penyakit tersebut kemudian dilaporkan menimbulkan epidemi pada tahun 1973, 1974, 1975 dan 1976 di Jawa dan tahun 1987-1989 di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan di provinsi lainnya. Serangan penyakit meluas pada karet rakyat secara berkepanjangan sampai tahun 1993. Banyak tanaman muda mengalami mati pucuk atau dieback dan mengakibatkan kematian. Terjadinya epidemi diduga karena penanaman monoklonal pada hamparan yang luas dan pada waktu itu karet rakyat hanya mengenal klon GT 1. Read the rest of this entry »

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «

» Newer posts