Briket Gambut Rawa Pening pada pembibitan Karet dalam Root trainer

Media tanam berpengaruh besar terhadap pertumbuhan bibit tanaman karet. Media tanam yang biasa digunakan untuk pembibitan tanaman karet dalam wadah root trainer adalah sabut kelapa atau cocopeat. Kemampuan cocopeat sebagai media tanam untuk menyimpan hara dapat ditingkatkan dengan pemberian pupuk organik seperti gambut rawa. Salah satu bentuk aplikasi gambut rawa selain dengan dicampur secara langsung adalah metode pemadatan atau briket.

Read the rest of this entry »

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

MENGENAL PENYAKIT BIDANG SADAP TANAMAN KARET

Sesuai dengan klasifikasi namanya, penyakit bidang sadap adalah penyakit pada tanaman karet yang menyerang panel atau bidang sadap, sehingga bidang sadap tidak produktif lagi. Ada beberapa jenis penyakit bidang sadap, yakni kering alur sadap (KAS) atau tapping panel dryness (TPD), mouldyrot, kanker garis dan bark nekrosis (BN). Secara visual, jenis-jenis penyakit dan ciri-cirinya diperlihatkan seperti pada Gambar berikut ini.

Untuk mengetahui faktor penyebab dan upaya preventif dan kuratif pada beberapa penyakit bidang sadap dijelaskan sebagaimana pada Tabel berikut ini (AR/04)

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

PEREMAJAAN OPTIMAL TANAMAN KARET : WAKTU, POLA DAN RESPONSNYA TERHADAP PERUBAHAN BIAYA DAN HARGA KARET

Sering kita temui tanaman karet di perkebunan besar yang berumur kurang dari 20 tahun sudah ditebang dengan alasan sudah habis kulitnya akibat over eksploitasi dan alasan teknis lainnya. Seharusnya umur ekonomi karet adalah 30 tahun, yang artinya penebangan pohon dilakukan sebelum waktunya. Usaha perkebunan karet merupakan usaha jangka panjang, jika ingin berkelanjutan dan menguntungkan sebaiknya juga mempertimbangkan segi finansial.

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui waktu dan pola peremajaan yang optimal bagi tanaman karet serta sensitivitasnya terhadap perubahan kenaikan biaya dan penurunan harga sudah dilakukan di kebun Getas, PT Perkebunan Nusantara IX, Jawa Tengah. Pengambilan sampel dilakukan secara purposive, dan analisa menggunakan konsep maksimalisasi keuntungan. Asumsi perhitungan yang digunakan adalah asumsi tingkat bunga riil 4,83% dan inflasi sebesar 6,97%, harga jual karet Rp 27.362/kg di tingkat Kebun Getas, dan produksi 40 ton dalam satu siklus tanam karet.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat optimal peremajaan tanaman karet adalah umur 25 tahun dengan pola peremajaan 4% per tahun dari luasan karet yang ada (Gambar 1). Waktu dan pola peremajaan tidak sensitif terhadap kenaikan biaya 5-10% dan penurunan harga karet 5-10% secara simultan. Meskipun menghasilkan waktu dan pola yang sama, terjadi perbedaan nilai MNR (Marginal Nett Revenue) dan ANR (Amortisasi of Nett Revenue) yang semakin menurun seiring dengan turunnya harga dan naiknya biaya. Dengan demikian, perusahaan sebaiknya mampu mempertahankan tanaman karet minimal hingga umur 25 tahun sehingga perusahaan dapat berjalan optimal dan berkelanjutan. Jika perusahaan melakukan peremajaan sebelum masa optimalnya, maka keuntungan rata-rata tahunannya tidak maksimum lagi, dan justru semakin menurun. Adapun besaran nilainya keutungannya tergantung kondisi produktivitas, harga jual karet, biaya karet dan suku bunga nya. [TW/03]

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

Older posts «

» Newer posts