Sistem Sadap Intensitas Rendah dan Pengaruhnya terhadap Status Fisiologi Klon PR 107 (Hasil Penelitian Selama 21 Tahun di Pantai Gading)

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Soumahin et al. (2010) di Pantai Gading menunjukkan adanya perbedaan status fisiologi pada klon PR 107 menggunakan sistem sadap intensitas rendah.

Sistem sadap intensitas rendah dengan aplikasi stimulansia konsentrasi tinggi (S/4d3 6d/7 8-10y(m) dan (S/2d6 6d/7 8-10/y(m)) mampu mengurangi tenaga sadap sekitar 10-50% dibandingkan sistem sadap standar (S/2d3 6d/7 4y(m)).

Sistem sadap intensitas rendah juga tidak berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan dan secara umum hasilnya tetap menguntungkan dalam jangka panjang.

Pada klon PR 107, status fisiologi tanaman menunjukkan hasil yang lebih baik dengan mengurangi panjang irisan sadap dan menambahkan konsentrasi stimulan dibandingkan mengurangi frekuensi sadap dengan panjang irisan dan konsentrasi stimulan standar.

Panjang irisan 1/4S menunjukkan adanya keseimbangan pada status fisiologi tanaman (Tabel 1).  Persentase KAS juga menunjukkan hasil yang lebih rendah (Tabel 2).

Profil fisiologi tanaman yang baik ditunjukkan dengan tingginya perlindungan pada integritas lutoid, kecukupan pada ketersediaan energi bagi tanaman, persediaan glusida yang cukup, dan biosintesis isopren yang aktif.

Kesemuanya berhubungan dengan metabolisme regenerasi sel yang lebih baik dan tidak terjadi over-eksploitasi atau kelelahan fisiologi.

Disimpulkan penggunaan sistem sadap intensitas rendah S/4d3 6d/710y(m) dan S/2d6 6d/710/y(m) dapat dipilih untuk klon PR 107.

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

YUK…KENALI PENYAKIT DAUN YANG MENYERANG TANAMAN KARET KITA

Penyakit gugur daun pada tanaman karet di Indonesia umumnya adalah penyakit gugur daun (PGD) Oidium, PGD Colletotrichum dan PGD Corynespora. Masing-masing penyakit disebabkan oleh patogen yang berbeda dan gejala yang ditimbulkan juga berbeda.

PGD Oidium

Serangan PGD Oidium

PGD Oidium disebabkan oleh patogen Oidium heveae. Gejala yang ditimbulkan khas dengan adanya serbuk putih di permukaan daun, serangan pada daun muda umur 1-15 hari setelah flush menyebabkan gugur daun sedangkan pada daun tua hanya mengakibatkan cacat daun.

Biasanya penyakit ini muncul ketika musim kemarau menjelang musim hujan atau setelah gugur daun alami. Pengendalian PGD Oidium masih efektif dilakukan dengan dusting belerang.  

PGD Colletotrichum

Memasuki musim hujan, PGD Colletotrichum yang disebabkan oleh Colletotrichum gloesporoides menjadi ancaman yang perlu diperhatikan. Serangan C.gloeosporioides pada daun muda menimbulkan bercak-bercak berwarna coklat kehitaman pada bagian tengahnya yang berturut-turut diikuti oleh mengeriputnya lembaran daun, timbulnya busuk kebasahan pada bagian yang terinfeksi dan akhirnya gugur daun.

Serangan PGD Colletotrichum

Sedangkan pada daun tua gejala berupabercak daun berwarna coklat kekuningan dan permukaan daun menjadi kasar. PGD Colletotrichum efektif dikendalikan dengan fungisida berbahan aktif mancozeb.

PGD Corynespora

Berbeda dengan PGD Oidium dan PGD Colletotrichum, PGD Corynespora dapat menggugurkan daun muda maupun daun tua sepanjang tahun. Penyakit ini disebabkan oleh jamur Corynespora casiicola.

Serangan PGD Corynespora

Gejala pada daun muda (flush) yaitu daun berubah menjadi kuning, menggulung, layu dan daun akan terlepas dari tangkainya (gugur). Sedangkan pada daun tua, gejala ditandai dengan adanya bercak-bercak tidak beraturan berwarna coklat tua atau hitam, tampak menyirip seperti tulang ikan, daun berwarna kuning kemerahan kemudian gugur daun.

Pengendalian PGD Corynespora dapat dilakukan dengan fungisida berbahan aktif  karbendazim, mancozeb, klorotalonil, propineb atau benomil.

PGD Pestalotiopsis

Baru-baru ini atau sejak tahun 2016 dilaporkan terjadi outbreak penyakit gugur daun yang pertama kali terdeteksi di Sumatera Utara dan menyebar ke provinsi lainnya di Sumatera.

Penyebab penyakit gugur daun ini sebelumnya diduga disebabkan oleh Fusicoccum, namun hasil pertemuan para peneliti dalam International Rubber Research and Development Board (IRRDB) di Kuala Lumpur pada tanggal 11-12 April 2019 sementara menyimpulkan penyebab penyakit tersebut adalah Pestalotiopsis sp.

Serangan PGD Pestalotopsis

Para peneliti dalam IRRDB juga sepakat untuk mengkonfirmasi kembali hipotesis tersebut secara rutin. Gejala PGD Pestalotiopsis pada daun muda yaitu terdapat bintik coklat, kemudian berkembang menjadi bercak coklat tua dan terdapat batas yang jelas antara bagian bercak dan bagian daun yang masih sehat.

Daun yang terinfeksi akan gugur sebelum waktunya. Pengendalian penyakit ini dapat dilakukan dengan memperbaiki performa tanaman, misalnya memupuk tanaman karet sesuai dosis rekomendasi khususnya untuk kebun yang sudah lama tidak dipupuk, mengurangi sumber inokulum dengan aplikasi fungisida berbahan aktif thiophanate methyl pada permukaan tanah, atau propikonazol dan heksakonazol pada tajuk tanaman saat pembentukan daun baru setelah masa gugur daun.

Dengan informasi di atas, diharapkan praktisi atau pekebun karet dapat mengidentifikasi permasalahan gugur daun yang terjadi di kebunnya dengan lebih baik.

Diperlukan kecermatan dalam mendeteksi dan membedakan penyakit tersebut, sehingga pengendalian yang dilakukan menjadi tepat sasaran dan efektif.

Untuk informasi lebih lanjut, silahkan berkonsultasi dengan Tim Balai Penelitian Getas, terutama berkaitan dengan identifikasi penyakit tanaman karet dan tindakan pengendaliannya.

Ingat! Identifikasi yang tepat menentukan keberhasilan upaya penanganannya!

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Efisiensi Biaya Penyadapan dengan LFT

Harga karet yang rendah pada beberapa tahun terakhir mengakibatkan keberlangsungan usaha perkebunan karet terancam apabila tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha.

Struktur biaya dalam usahatani karet yang terbesar adalah biaya penyadapan, khususnya upah penyadap. Salah satu manajemen eksploitasi yang dikembangkan untuk mencapai upaya tersebut adalah dengan penerapan metode Low Frequency of Tapping (LFT).

Pada metode LFT hari sadap diturunkan dari d/2 menjadi d/3, d/4, bahkan hingga d/6. Efisiensi biaya penyadapan dapat dilakukan akibat adanya pengurangan jumlah tenaga penyadap.

Penurunan frekuensi sadap tidak serta merta meningkatkan keuntungan karena produktivitas juga dipengaruhi jumlah hari sadapnya. Oleh karena itu, untuk mengganti produksi pada hari sadap yang hilang maka produksi riil per sadap harus lebih tinggi.

Pada penelitian Siregar et al. (2009), perubahan frekuensi sadap d3 menjadi d4 terbukti menurunkan biaya penyadapan. Produksi pada frekuensi sadap d/4 di tahun I juga lebih tinggi dibanding d/3 sehingga keuntungan yang diperoleh juga lebih tinggi.

Akan tetapi keuntungan pada frekuensi sadap d/3 di tahun II dan III lebih tinggi akibat produksi kumulatif per tahun juga lebih tinggi (Tabel 1).

Widyasari et, al. melakukan penelitian yang lebih rinci yaitu melakukan kombinasi frekuensi sadap dengan penggunaan stimulan untuk optimasi produksi dan efisiensi biaya penyadapan.

Hasil penelitiannya juga menunjukkan bahwa semakin rendah frekuensi sadap, semakin menurunkan biaya penyadapan. Sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh pada sistem sadap d/3 (perlakuan S/2d3.ET2,5% Ga.1.m/3 dan perlakuan S/2 d3.ET4,0%.Ga.1.2w) lalu diikuti sistem sadap d/4 (Perlakuan S/2 d4.ET5,0%.Ga.1.2w).

Kedua penelitian tersebut menunjukkan bahwa sistem sadap d/3 ternyata lebih unggul meskipun memerlukan biaya yang lebih tinggi setelah d/2 karena didukung oleh produktivitas dan penerimaan yang tertinggi.

Sistem sadap d/4 dapat diterapkan sebagai alternatif untuk mengatasi kelangkaan penyadap dan menekan biaya penyadapan dengan produktivitas yang tidak terlalu jauh dengan d/3. (NDR)

T

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather