Analisis Hara Daun untuk Mendukung Penerapan LFT

foto: Dr. Hananto Hadi

Penurunan frekuensi sadap saat ini mulai banyak diterapkan di perkebunan-perkebunan karet di Indonesia. Penurunan frekuensi sadap tentu saja diharapkan mampu memberikan dampak positif terhadap kesehatan tanaman.

Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk mengetahui kondisi kesehatan tanaman karet adalah analisis kandungan hara daun. Kondisi hara dalam tanaman karet sangat dipengaruhi oleh lateks yang dihasilkan.

Hal tersebut dikarenakan di dalam lateks yang dihasilkan oleh tanaman, terdapat hara yang ikut hilang dari tanaman. Penerapan LFT yang berpengaruh terhadap produksi total tentu dapat juga mempengaruhi keseimbangan hara dalam tanaman.

Menurut Pushparajah et al., (1972) secara umum hara yang hilang terbawa bersama 1.000 kg karet kering sebesar 9,2 kg N; 2,2 kg P; 7,5 kg K; dan 1,5 kg Mg. Sehingga, dengan semakin besar produksi tanaman karet, maka tambahan hara yang dibutuhkan oleh tanaman untuk menjaga keseimbangan haranya juga semakin besar.

Sebaliknya pula, jika produksi total tanaman menjadi lebih rendah, maka tambahan hara yang dibutuhkan tanaman juga menjadi lebih sedikit. Hal yang cukup menarik pernah ditemukan dari hasil penerapan LFT ini adalah tajuk yang lebih baik ketika diterapkan penyadapan dengan frekuensi rendah dan dikombinasikan dengan aplikasi stimulan gas.

Tajuk daun yang awalnya Ringan setelah diaplikasikan LFT dengan Stimulan gas berubah menjadi sedang sampai dengan lebat (berat). Hal ini menunjukkan bahwa penerapan LFT dengan dikombinasikan stimulant yang tepat bisa jadi meningkatkan serapan hara tanaman yang korelasinya bisa menghemat pupuk yang diberikan.

Oleh karena itu penelitian Korelasi Hara Daun dengan Penerapan LFT yang dikombiansikan Stimulan tertentu menjadi hal yang perlu di kembangkan (RCP).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

KONTRIBUSI BIBIT KARET ROOT TRAINER SEBAGAI SUMBER PENDAPATAN BALIT GETAS (BAGIAN 2)

  Bibit karet root trainer buatan kita mulai sudah terdistribusi ke para pengguna, yaitu dari kalangan perkebunan yaitu PTPN IX (kebun Batujamus, Balong dan Merbuh), akademisi (Universitas Gajah Mada), bahkan untuk pameran di Museum Macan Jakarta J. Berdasarkan testimoni yang telah kita himpun, mereka menyatakan rasa puas terhadap kualitas bibit root trainer buatan kita.    

Bibit karet root trainer-nya MANTABS, distribusi di lapangan bisa lebih cepat, prestasi lebih tinggi dan sangat efisien” tutur Bapak Hendro selaku asisten kepala (HTO) kebun Merbuh PTPN IX. Sementara Bapak Yes asisten kepala kebun Batujamus PTPN IX menyampaikan testimoninya bahwa “Bibit root trainer dari Balit Getas meskipun saat ditanam adalah 1 payung, tetapi setelah 1 tahun ditanam di lapangan keragaan tanaman sama dengan tanaman yang berasal dari bibit polybag 2 payung”. Testimoni lainnya dari Bapak Septaka Manajer Kebun Balong PTPN IX menyampaikan: ”Bibit karet root trainernya bagus, tahun ini kami akan pesan lagi”. Demikian beberapa TESTIMONI KEPUASAN para pengguna bibit karet root trainer Balit Getas.   Continue reading

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Pengaruh Klon dan Jenis Mata Okulasi terhadap Waktu Melentis dan Tinggi Tunas pada bibit Roottrainer

Penggunaan jenis mata burung dan mata prima pada ketiga klon karet IRR 118, IRR 112 dan PB 360 telah diamati terhadap karakter waktu pecah tunas (melentis) dan pertumbuhan tunasnya. Hasilnya menunjukkan bahwa waktu melentis terjadi antara 11-70 hari setelah serong, dengan rata-rata hari ke- 18,95-28,5 (Gambar 1). Rata-rata waktu melentis untuk klon IRR 118 adalah hari ke- 21,56, IRR 112 hari ke-23,96 dan PB 260 terjadi pada hari ke-22,06. Ketiganya tidak berbeda nyata. Rata-rata waktu melentis untuk mata prima 20,89 dan mata burung 23,11.

            Pertumbuhan tunas menunjukkan pola yang tidak jauh berbeda antara mata burung dan mata prima (Gambar 2). Penggunaan mata burung cenderung menunjukkan pertumbuhan tunas yang lebih lambat pada klon PB 260. IRR 118 dan IRR 112 cenderung menunjukkan pertumbuhan tunas yang tidak jauh berbeda untuk kedua jenis mata tunas. Secara umum, klon IRR 118 menunjukkan pertumbuhan tunas yang lebih baik untuk bibit roottrainer pada pengamatan hingga /payung pertama.

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather