«

»

PELUANG PENGEMBANGAN BIBIT KARET ROOT TRAINER

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Bahan tanam karet yang umum digunakan di Indonesia berasal dari stum mata  tidur atau bibit polibag. Jika dibandingkan dengan bibit stum, persentase kematian bibit polibag saat ditanam di lapangan lebih rendah, tanaman lebih seragam, dan masa tanaman belum menghasilkan (TBM) lebih singkat. Bibit polibeg juga memiliki kekurangan seperti bentuk perakaran yang kurang baik dan pengangkutan bibit lebih sulit. Hal tersebut mendorong upaya pengembangan teknologi penyediaan bahan tanam karet yang lebih efisien. Salah satu teknologi yang telah dikembangkan adalah root trainer. Pada awalnya teknologi ini diadopsi dari negara India kemudian dilakukan modifikasi yang disesuaikan dengan kondisi di Indonesia (media tanam, pemupukan, irigasi, dll).

Root trainer merupakan wadah berbentuk pot panjang yang digunakan sebagai pengganti polibag. Pengembangan bibit karet dengan teknologi root trainer memiliki banyak keunggulan baik dari aspek agronomis, aspek teknis, maupun aspek finansial. Dari aspek agronomis, prinsip kerja root trainer yaitu mengoptimalkan pertumbuhan akar serta mengarahkan pertumbuhan akar tunggang dan lateral ke arah bawah sehingga ketika bibit ditanam di lapang, akar dapat menjangkau lapisan tanah bawah yang berkadar lengas lebih tinggi dan menyerap hara lebih banyak. Dari aspek teknis, volume dan bobot bahan tanam root trainer lebih kecil sehingga ringan, mudah, dan lebih efisien dalam pendistribusiannya  (transportasi maupun penyaluran bibit saat pindah tanam ke lapang).

Ukuran root trainer yang lebih kecil membutuhkan media tanam yang lebih sedikit dibanding bibit polibag. Bibit root trainer hanya membutuhkan media tanam sebanyak ±400 gram yang umumnya terdiri dari campuran cocopeat (limbah sabut kelapa), gambut, arang sekam, dll, sedangkan polibag membutuhkan sekitar 8.000 gram tanah. Jumlah media tanam yang lebih sedikit ber pengaruh terhadap kecepatan dan prestasi kerja dalam pengisian media tanam lebih tinggi sehingga biaya tenaga kerja lebih rendah. Selain itu, biaya pupuk, pestisida, dan fungisida juga lebih rendah. Dengan ukuran root trainer yang kecil juga memudahkan dalam hal distribusi (transportasi dan penyaluran bibit di lapangan) sehingga berdampak pada biaya yang lebih efisien.  

 

 

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>