«

»

PENERAPAN LOW FREQUENCY OF TAPPING DI KEBUN KARET, BAGAIMANA SISI SOSIALNYA?

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmailby feather

Penerapan Low frequency of tapping (LFT) diharapkan mampu menjadi salah satu solusi langkanya ketersediaan tenaga kerja dan menekan biaya penyadapan. Menurut Nang et al., (2015) perubahan frekuensi sadap dari d3 menjadi d4 dapat meningkatkan gps (gram per pohon per sadap) sehingga produksi di saat hari sadap lebih tinggi daripada biasanya meskipun jumlah pohon yang disadap sama.

Adapun dari sisi penggunaan tenaga kerja dan biaya, Widyasari, et al (2017) berpendapat bahwa semakin rendah frekuensi sadap, maka kebutuhan tenaga penyadap semakin rendah, sehingga dapat menekan biaya penyadapan. Tabel 1., menunjukkan kebutuhan tenaga kerja per Ha pada berbagai frekuensi sadap. Meskipun demikian, bagaimana penerapannya jika ditinjau dari sisi sosialnya?

Di Kerala (India), Chandy et al. (2012) pernah melakukan ujicoba terhadap pekebun karet dan penyadap melalui survey terhadap 48 responden, dengan luasan areal 0,89 hingga 4,45 Ha. Pola kegiatan menyadapnya bervariasi, ada yang menyadap dengan mengupah tenaga kerja, dan ada yang menyadap sendiri termasuk juga dibantu oleh tenaga kerja dalam keluarga. Hasilnya, mengindikasikan bahwa luasan kebun karet merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam penerapan LFT.

Selain itu juga, ketergantungan terhadap tenaga kerja upahan dan jumlah pohon TM yang perlu disadap. Penolakan terhadap LFT terjadi pada pekebun karet yang memiliki luasan yang kecil dan populasi pohon yang sedikit. Hal tersebut terjadi dengan alasan kehilangan hari sadap, dan meningkatnya volume pekerjaan karena produksi yang lebih tinggi daripada biasanya.

Untuk mengatasi hal tersebut, pekebun karet dapat mengatasinya dengan:

  1. Bagi petani, beralih menyadap sendiri karena luasannya hanya kecil.
  2. Bekerja tambahan di perkebunan karet lainnya karena jumlah hari sadap yang berkurang sehingga lebih longgar waktu kerjanya
  3. Bagi pekebun, memberi insentif tambahan kepada penyadap atas kelebihan produksi yang diperoleh akibat LFT.

Dengan demikian, kebijakan penerapan LFT sangat bergantung pada besar kecilnya luasan kebun karet dan ketersediaan tenaga penyadap (tenaga dalam keluarga, petani sendiri yang bisa menyadap sendiri kebunnya dan tenaga penyadap yang dibayar). Pengaturan kelembagaan untuk mengatasi variasi luasan kebun karet dan langkanya tenaga kerja sangat penting untuk menerapkan secara efektif LFT secara jangka panjang.

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>