«

»

Penyakit Gugur Daun Terkini, Fusicoccum

facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Kehebohan akibat berita media sosial tidak lagi menjadi hal yang langka pada saat ini, dimana komunikasi antar perangkat pribadi sudah menjadi sedemikian mudah dan cepat. Reaksi yang seringkali berlebihan menjadi dampak yang umumnya muncul mengikuti berita tersebut. Dunia perkaretan nasional hampir mengalami hal serupa, adanya gangguan yang diakibatkan oleh Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) “baru” menyebabkan banyak stakeholder yang heboh dan menyikapinya secara berlebihan. Langkah penanganan yang tepat dan efektif memang perlu dilakukan agar gangguan ini tidak berkembang menjadi sebuah epidemi, namun pengenalan yang baik juga perlu dilakukan agar langkah yang diambil tidak terkesan buru-buru dan berlebihan.

Untuk mengenali penyakit ini dengan lebih baik, tim Proteksi Balit Getas akan memberikan informasi yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber sebagai berikut:

Penyakit Gugur Daun (PGD) Fusicoccum disebabkan oleh jamur Fusicoccum sp. yang pada awalnya dilaporkan menyebabkan gugur daun pada daun-daun tua maupun muda di beberapa wilayah di Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Gejala diawali dengan bercak coklat dengan batas tepi yang jelas pada daun muda dan tua serta tangkai daun, bercak dapat berkembang menjadi lebih lebar, selanjutnya daun menguning dan gugur sebelum waktunya. Setelah daun gugur, daun baru yang terbentuk akan berukuran lebih kecil dari ukuran normal dan sebagian ranting mati sehingga kelihatan meranggas. Hal-hal yang diduga mendukung perkembangan penyakit sehingga dapat menyebar lebih cepat antara lain sumber inokulum yang sudah terdapat di lokasi, tanaman tidak terawat dengan baik dengan tekanan eksploitasi yang berat dan tidak adanya pengendalian OPT.

Intensitas serangan dan luas serangan dilaporkan bervariasi pada berbagai daerah, serangan yang relatif berat terutama terjadi di Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Salah satu survei pendahuluan yang pengamatannya dilakukan oleh petugas kebun menyebutkan gejala penyakit sudah banyak ditemukan di Jawa Timur dan ditemukan dalam jumlah kecil di Pekalongan, Jawa Tengah.

Klon-klon anjuran Pusat Penelitian Karet hingga saat ini belum diketahui secara jelas sifat ketahanannya terhadap penyakit ini. Beberapa klon yang dilaporkan menderita kerusakan cukup berat yaitu IRR 118, PB 260 dan GT 1.

Pengendalian yang efektif dapat dilakukan dengan fungisida berbahan aktif heksakonazol dengan mengunakan power sprayer, fogger maupun power duster.

Penelitian yang lebih jauh untuk mengenali penyakit ini diperlukan tidak hanya dari gejala dan pengendalian saja, namun juga terhadap biologi patogen, epidemiologi dan fakto-faktor yang mempengaruhinya, sehingga penanganan yang dilakukan menjadi efektif dan sesuai dengan kebutuhan.

 

facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>