SOMATIC EMBRYOGENESIS DAN PEMBARUAN PERBANYAKAN BAHAN TANAM KARET

Facebooktwitterredditpinterestlinkedinmailby feather

Sejauh ini perbanyakan tanaman karet secara komersil dilakukan dengan okulasi. Okulasi dilakukan dengan menempelkan mata tunas entres pada sekitar pangkal batang bawah.

Cara tersebut cukup efisien mengingat ketersediaan mata tunas entres dalam satu meter dapat berjumlah 10 – 15 mata. Itulah yang membuat okulasi lebih efisien dibandingkan dengan perbanyakan vegetatif lainnya seperti sambung pucuk, susuan, dan cangkok.

Walaupun begitu, perbanyakan tanaman dengan okulasi masih tergolong ribet penyelenggaraannya.

Mengapa demikian?

Karena perbanyakan tanaman karet melalui okulasi masih melibatkan dua unsur tanaman yaitu entres dan batang bawah yang mana entres merupakan bagian tanaman yang bertugas melakukan fotosintesis dan memproduksi lateks.

Adapun batang bawah bertugas untuk menopang entres dan menjamin suplai larutan nutrisi yang dibutuhkan oleh seluruhan tubuh tanaman.

Keduanya harus dirawat dan dipelihara pada nursery yang berbeda dengan baik agar tingkat keberhasilan okulasinya tinggi. Perawatan maupun pemeliharaan tersebut tentunya membutuhkan perhatian manajemen yang lebih.

Bagaimana dengan stek, tidakkah itu lebih praktis dan mudah? Perbanyakan vegetatif dengan cara stek memang lebih praktis karena hanya melibatkan satu unsur tanaman,dalam konteks ini yaitu entres saja tanpa batang bawah.

Namun kenyataannya, menerapkan perbanyakan stek pada entres karet tidak semudah melakukan stek batang ubi kayu atau pada spesises lainnya yang mudah distek. Entres tanaman karet sangat sulit untuk berakar.

Mengapa demikian? Karena sel maupun jaringan entres karet cenderung sudah dewasa secara fisiologis.

Sel maupun jaringan yang demikian,juvenilitasnya relatif rendah dan susah untuk diinduksi perakarannya. Kalaupun berhasil diinduksi perakarannya, laju pertumbuhan selanjutnyaakan banyak mengalami gangguan dan hambatan.

Oleh karena itu perbanyakan entres tanaman karet dengan stek secara komersil sangat jarang bahkan tidak pernah dilakukan. Terobosan perbanyakan vegetatif melalui kultur in vitro dengan teknik somatic emrbyogenensis (SE) sebenarnya telah berhasil dicapai oleh beberapa negara antara lain Prancis, RRC, Belgia, dan lain-lain.

Induksi SE tersebut biayanya masih cukup mahal dan masih terbatas pada klon-klon tertentu saja. Oleh sebab itu, sampai saat ini belum ada atau jarang yang melakukannya secara komersil. Namun pada beberapa publikasi, salah satu perusahaan swasta Indonesia yang menggandeng University of Ghent di Belgia telah mulai menerapkannya pada perkebunan komersil mereka di Ivory Coast.

Apa yang mereka lakukan bukanlah memperbanyak bahan tanam karet dari SE secara langsung melainkan menjadikan SE sebagai jalan untuk merejuvenasi total beberapa klon entres mereka yang umumnya sudah dewasa secara fisiologis. Selanjutnya tanaman hasil rejuvenasi tersebut ditanam sebagai induk entres juvenil dan perbanyakan selanjutnya dilakukan dengan stek.

Dengan perbanyakan stek tersebut maka tidak lagi dibutuhkan batang bawah sebagai penopang entres karena entres itu sendiri bisa berakar dan menopang dirinya sendiri. Mereka menyebutnya dengan istilah self rooted clone. Setelah ditanam di lapangan, tanaman asal stek tersebut menunjukkan performa pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan dengan tanaman asal okulasi.(NEP).

Facebooktwitterlinkedinrssyoutubeby feather

Leave a Reply

Your email address will not be published.