«

»

YUK CARI TAHU TENTANG FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN PENYAKIT GUGUR DAUN (PGD) COLLETOTRICHUM

Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmailby feather

Penyakit gugur daun Colletotrichum pada tanaman karet pertama kali dilaporkan Arens 1914 di Malang Selatan, Jawa Timur. Penyakit tersebut kemudian dilaporkan menimbulkan epidemi pada tahun 1973, 1974, 1975 dan 1976 di Jawa dan tahun 1987-1989 di Sumatera Utara, Kalimantan Barat dan di provinsi lainnya. Serangan penyakit meluas pada karet rakyat secara berkepanjangan sampai tahun 1993. Banyak tanaman muda mengalami mati pucuk atau dieback dan mengakibatkan kematian. Terjadinya epidemi diduga karena penanaman monoklonal pada hamparan yang luas dan pada waktu itu karet rakyat hanya mengenal klon GT 1.

Penyakit gugur daun Colletotrichum pada tanaman karet disebabkan oleh Colletotrichum acutatum dan Colletotrichum gloeosproides. Hasil penelitian berdasarkan DNA jamur menunjukkan isolat dari Sumatera termasuk spesies Colletotrichum acutatum sedangkan isolat dari Jawa termasuk spesies Colletotrichum gloeosproides. Kedua spesies tersebut akan menunjukkan reaksi yang berbeda pada tiap klon sehingga serangan yang ditimbulkan bervariasi. Secara umum, C. acutatum menyebabkan busuk kering (antraknosa) sedangkan C. gloeosproides menyebabkan busuk basah pada daun muda.

Suatu penyakit timbul dan berkembang karena hamparan tanaman yang rentan, patogen virulen dan lingkungan yang sesuai untuk berkembangnya patogen. Di Jawa, syarat pokok timbulnya epidemi PGD Colletotrichum yaitu penyimpangan iklim dari pola iklim normal, hujan merata sepanjang tahun, tanaman karet dengan stadium kritis yaitu jika pembentukan kuncup atau daun muda terjadi pada waktu banyak hujan. Referensi lain menyebutkan epidemi PGD Colletotrichum terjadi karena adanya curah hujan tinggi (> 3.000 mm/tahun) dengan jumlah hari hujan tinggi dan tanpa ada bulan kering selama setahun, kelembaban nisbi udara tinggi (90-95%), temperatur rata-rata harian 26-30 oC, hamparan klon rentan yang luas, pemeliharaan tanaman tidak optimal, dan tidak ada pengendalian gugur daun sehingga sumber inokulum penyakit meningkat. Selain itu, curah hujan, angin dan air hujan membantu timbul dan berkembangnya PGD Colletotrichum. Sinar matahari antara jam 08.30-09.30 dengan kekuatan 3.100 lux mampu menurunkan persentase perkecambahan spora C. gloeosproides sampai 33%. Angin berperan penting dalam penyebaran spora jamur. Angin berpengaruh terhadap perpindahan panas, penguapan dan pertukaran gas sehingga mempengaruhi fisiologi sel tanaman inang dan interaksi inang-patogen [IB/03].

Facebooktwittergoogle_pluslinkedinrssyoutubeby feather

About the author

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>