Sistem Alih Teknologi Karet : Pengalaman Malaysia

Titik Widyasari dan Muhammad Supriadi

Dimuat di Warta Perkaretan 2008, 27 (2), 69 – 79.

Malaysia merupakan salah satu negara produsen utama karet alam dunia setelah Thailand dan Indonesia. Kemajuan industri karet di Malaysia didukung oleh keberadaan Lembaga Getas Malaysia yang bertugas menghasilkan berbagai inovasi dan teknologi yang berguna bagi pekebun, terutma petani karet, maupun industri barang jadi karet. Selain itu, proses pembangunan perkebunan karet di Malaysia juga didukung oleh lembaga-lembaga pelaksana pembangunan (implementing agency) seperti RISDA, FELDA, dan FELCRA. Dalam melaksanakan tugasnya, lembaga-lembaga tersebut bekerjasama secara erat dengan Lembaga Getah Malaysia dalam proses alih teknologi perkaretan. Lembaga pelaksana pembangunan mempunyai berbagai mekanisme kerjasama dengan LGM yang memungkinan mereka secara cepat memperoleh informasi dan teknologi baru dari LGM. Melalui mekanisme yang dibangun bersama, proses alih tenologi serta adopsi teknologi oleh petani dapat berlangsung relatif cepat. Tulisan ini membahas mekanisme alih teknologi tersebut dengan memberikan satu contoh proses alih teknologi penyadapan intensitas rendah (low intensity tappig system/ LITS).

linkedinrssyoutubeby feather

Komoditas Karet di Malaysia : Produksi dan Kinerja Ekspornya dalam memenuhi Kebutuhan Karet Alam Dunia

Titik Widyasari

Dimuat di Warta Perkaretan 2009, 28 (1), 65 – 75.

Malaysia merupakan negara produsen karet peringkat ketiga di dunia. Malaysia memiliki luas lahan karet yang semakin menurun namun produksin dan produktivitasnya meningkat. Sebesar 96% lahan karet dimiliki dan digarap oleh pekebun rakyat, sedangkan 4% dikelola oleh perusahaan. Karet lebih banyak ditanam di bagian Peninsular Malaysia dibandingkan di Sabah dan Serawak. Industri hilir Malaysia sangat berkembang, ekspor produk barang jadi karet bervariasi, bahkan produk kayu karet juga diekspor dalam bentuk furniture. Komoditas karet sebagian besar diekspor ke Cina dalam jumlah yang semakin meningkat. Selain melakukan ekspor barang jadi, Malaysia juga melakukan impor bahan baku karet yang sebagian besar berasal dari Thailand. Bila dibandingkan dengan Indonesia, posisi ekspor Malaysia unggul dalam hal nilai ekspor percapita (percapita export), nilai net ekspor (value of net export), bagian terhadap pangsa pasar dunia (world market share), diversifikasi produk (diversification pf product), serta tingkat diversifikasi pasar dan konsentrasi pasar. Sedangkan dalam hal nilai unit relatif terhadap nilai dunia (relative unit value), Indonesia lebih unggul dibandingkan Malaysia. Baik Indonesia maupun Malaysia mampu memenuhi dinamika perubahan permintaan dunia akan karet alam.

 

linkedinrssyoutubeby feather

Urgensi Sensus Lilit Batang sejak TBM 1 sebagai Strategi Meningkatkan Keragaan dan Keseragaman Tanaman Karet

Akhmad Rouf, Setiono, dan Ari Santosa Pamungkas.

Dimuat di Warta Perkaretan 2013, 32 (2), 95 – 102.

Kecepatan tanaman karet memasuki matang sadap sangat dipengaruhi oleh tingkat pertumbuhan pada saat fase tanaman belum menghasilkan (TBM). Pengukuran lilt batang merupakan parameter yang sering digunakan dalam mengevaluasi pertumbuhan TBM. Pada umumnya pengukuran lilit batang pada saat TBM 1 sampai TBM 3 dilakukan secara sampling, sedangkan pada TBM 4 dan 5 dilakukan secara sensus. Pengukuran lilit batang secara sampling seringkali kurang mencerminkan keadaan tanaman sebenarnya. Hal tersebut disebabkan ada subjektivitas dalam pengambilan sampel. Dampak yang sering terjadi dalah hasil evaluasi TBM 1 – TBM 3 dinilai memiliki lilit abatang standar dan keragaan tanaman digolongkan baik bahkan superior. Setelah dilakukan sensus lilit batang pada TBM 4 dan 5, keragaan tanaman hasil penilaian kadang terbalik menjadi kurang baik dan persentase tanaman dengan lilit batang di bawah standar lebih banyak. Metode sensus sejak akhir TBM 1 dimaksudkan untuk mengidentifikasi setiap individu tanaman dan mengetahui kondisi tanaman secara lebih valid. Tanaman yang memiliki laju pertumbuhan kurang baik dapat segera diketahui dan dapat ditindaklanjuti melalui tindakan agronomis secara khusus dan selektif. Melalui tindakan tersebut, keragaan pada tanaman yang awalnya terhambat diharapkan menjadi lebih baik, sehingga persentase tanaman siap sadap semakin ditingkatkan dan waktu buka sadap tidak tertunda.

linkedinrssyoutubeby feather