Aplikasi Penginderaan Jauh untuk Mendukung Sistem Manajemen Lahan Perkebunan yang Berkelanjutan di Perkebunan Karet

Imam Susetyo dan Setiono.

Warta Perkaretan 2013, 32 (2), 105 – 113.

Karet merupakan salah satu komoditi perkebunan yang cukup menjanjikan hingga 20 – 30 tahun mendatang. Permasalahan perkebunan karet di Indonesia terkait sumberdaya lahan memerlukan input tknologi yang efektif dan efisien. Hal itu harus terus diupayakan untuk menjaga keberlanjutan produksi. Teknologi penginderaan jauh merupakan salah satu input yang dapat digunakan sebagai pengambil keputusan untuk memutuskan masalah secara spasial dan bersifat cepat, akurat, dan dinamis. Pemanfaatan tenologi penginderaan jauh sebagai salah satu decision support system (DSS) belum banyak diaplikasikan di perkebunan karet di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan aplikasi penginderaan jauh dengan menggunakan citra satelit dan foto udara di bidang agronomi, tanah dan penyakit tanaman pertanian dan perkebunan menunjukkan hasil yang cukup baik. Pembuatan sistem informasi perkebunan yang mengintegrasikan data penginderaan jauh, data survei lapangan secara temporal dengan sistem informasi geografis (SIG) merupakan suatu cara untuk mengelola lahan perkebunan secara utuh.

linkedinrssyoutubeby feather

Biofungisida Triko Combi sebagai Salah Satu Pengendali Jamur Akar Putih pada Tanaman Karet

Budi Setyawan, Soekirman Pawirosoemardjo, dan Hananto Hadi.

Dimuat di Warta Perkaretan 2013, 32 (2) 83 – 94.

Abstrak

Penyakit jamur akar putih yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus merupakan salah satu penyakit penting pada tanaman karet di Indonesia, baik di perkebunan besar maupun rakyat. Kerugian secara finansial akibat penyakit ini sangat tinggi terutama di perkebunan karet rakyat. Pengendalian yang disarankan untuk penyakit ini adalah dengan pengendalian terpadu yaitu integrasi beberapa teknik pengendalian seperti pembongkaran tunggul, tanaman penutup tanah kacangan, seleksi bahan tanam, tanaman antagonis, biofungisida serta fungisida kimia yang diaplikasikan secara bijak. Hasil pengendalian pada umumnya masih belum memuaskan karena beberapa kendala teknis maupun non-teknis. Salah satu kendala yang cukup mengganggu yaitu mahalnya biaya, terutama bagi pekebun rakyat. Sebagai salah satu unsur dalam pengendalian terpadu, pengendalian secara biologi merupakan metode yang berpotensi besar. Pengendalian biologi menggunakan Trichoderma sp. sudah digunakan secara luas dan terbukti efektivitasnya. Cara tersebut tidak hanya efektif sebagai upaya preventif, tetapi juga muran, mudah diaplikasikan, dan ramah terhadap lingkungan. Triko Combi merupakan biofungisida semi-komersial yang diformulasi Balai Penelitian Getas dan memiliki empat jenis bahan aktif, yaitu Trichoderma viride, Trichoderma koningii, Trichoderma harzianum dan satu strain lokal Trichoderma sp. pada percobaan dengan infeksi buatan Rigidoporus microporus di pembibitan polibeg menunjukkan adanya penekanan intensitas penyakit oleh perlakuan kombinasi empat jenis Trichoderma spp. tersebut dibandingkan bibit tanpa perlakuan, maupun bibit dengan aplikasi fungisida kimia. Hasil yang signifikan juga diperoleh melalui pengujian penghambatan langsung miselium Rigidoporus microporus secara in-vitro di laboratotium.

Kata Kunci :

linkedinrssyoutubeby feather

Mekanisme Antagonisme Trichoderma spp. terhadap Beberapa Patogen Tular Tanah

Intan Berlian, Budi Setyawan, dan Hananto Hadi.

Dimuat di Warta Perkaretan 2013, 32 (2), 74 – 82.

Abstrak.

Karet memiliki peran sangat penting bagi perekonomian Indonesia. Beberapa kendala rendahnya produktivitas karet di Indonesia adalah kurangnya penerapan teknologi budidaya karet, gangguan cuaca, iklim dan hama penyakit. Penyakit jamur akar putih yang disebabkan patogen Rigidoporus microporus merupakan penyakit penting pada tanaman karet. Salah satu alternatif mengendalikan JAP adalah pemanfaatan jamur Trichoderma spp. Mekanisme pengendalian Trichoderma spp. terhadap jamur patogen tumbuhan yaitu dengan kompetisi terhadap tempat tumbuh dan nutrisi, antibiosis, dan parasitisme. Antibiosis mempunyai peran penting dalam proses pengendalian dan hampir selalu terkait dengan mekanisme lain yaitu kompetisi dan mikroparasitisme. Satu mekanisme penghambatan yang dimiliki Trichoderma spp. tidak dapat bekerja sendiri untuk menghasilkan penghambatan yang signifikan. Konsep pengendalian penyakit dengan agen hayati akan berhasil jika terdapat keseimbangan antara faktor suhu, pH, dan kelembaban yang optimum. Mekanisme antagonisme yang dimiliki oleh Trichoderma spp. berpotnsi besar sebagai pengendali patogen tular tanah Rigidoporus microporus penyebab penyakit jamur akar putih.

Kata kunci : Trichoderma spp., Rigidoporus microporus, kompetisi, mikoparatisme, antibiosis.

linkedinrssyoutubeby feather